Oleh Rio SY
(Padang Ekpress, 29 Juni 2008)

karya: rio sadja
Ayek Bainah, perempuan tua, istri dari seorang mantan saudagar kaya di negri ini. Ayek Surin nama suaminya itu. Begitulah orang-orang pesisir memanggil orang yang telah tua dengan panggilan ayek.
Ada yang membuatku penasaran dengan kegemaran ayek Bainah yang sangat suka bertandang ke rumah-rumah penduduk sekitar. Bukanlah lantaran ia bosan menemani suaminya yang saban hari di rumah-rumah saja. Kata orang, kegemaran ayek Bainah bertolak belakang dengan suaminya yang jarang keluar rumah semenjak pelabuhan yang tidak jauh dari rumahnya itu tutup. Seiring itu pula usaha perdagangan suaminya kian merosot.
Dulu mereka sangat kaya, hampir seluruh perdagangan di pelabuhan kecil itu suaminya yang menguasai. Tapi kini tepi pelabuhan itu menjadi pasar dan hanya sepetak toko yang masih bertahan sebagai sisa kejayaannya di masa lampau. Uang sewa toko itulah yang menghidupi hari tua mereka. Pelabuhan itu pun hanya tinggal sebuah sungai yang luas dengan air matinya (air yang sudah tidak mengalir lagi). Bekas pelabuhan itu pun kini telah semak oleh tumbuhan-tumbuhan liar. Dan entah oleh karena apa akhirnya mereka bangkrut. Semenjak itu orang-orang kampung jarang sekali melihat ayek Surin keluar dari rumahnya kecuali istrinya ayek Bainah yang sangat suka berjalan-jalan seputar kampung, lalu singgah di rumah penduduk.
Baca Lanjutannya…