Oleh: riosy | Februari 17, 2009

Hari Panen

(mata sabit)

setiap angin hinggap pada sebuah bulan
yang setajam mata sabit
menebas hari-hari panen
kubayangkan sesak nafasmu
menghitung butir hampa berat
yang tak terpisah bernas
tak ditiup penggirik yang memutar
ayun tangan petani membuat pusaran
menghisapku dalam-dalam
lantas melepasku pada sawah yang lain
sawah yang menghamparkan para peadu layanglayang

kita sama-sama mengasah benang
setiap kali disentakkan, putus, dan lepaslah rindu
yang diulur panjang
berlarian anak orang dari masa lalu
mengejar kepergian yang terkadang hinggap
pada sebuah bulan setajam mata sabit
menebas hari-hari panen

Padang, 2009

(Dimuat di Koran Sindo, 15 Februari 2009)

Oleh: riosy | Februari 17, 2009

Lenguh

lenguh sapi membuat padang seperti
dalam lubang sampelong
kudengar nyanyian yang tua
lebih tua. tetapi dalam suaraku
mungkin akan terdengar bunyi pabrik
sebuah pabrik kayu yang mulai layu
tempat kita mengerat badan
dan memasang udara serbuk

Padang, 2009

(dimuat di Koran Sindo, 15 Februari 2009)

Oleh: riosy | Februari 17, 2009

Pengembalian

mengapa kembali
sehabis air basuhan dijentikkan
basah tercekat di ruangan

apa karena kudapati helai rambutmu
rontok di sebuah sisir kayu
ambillah sisir ini
kau perlu merapikan
rambutmu yang diamuk dendam

“aku telah diam dalam peram
memendam diri sendiri
menunggu tetas”

untuk siapa kembali
sehabis pengakuan dimuntahkan
terserak di ruang yang menelanku bulat-bulat
tetapi kau surukkan kain pel, sapu,
bahkan ember tak bertangkai itu

apa yang kau bawa kembali
selain cinta yang dulu kupinjamkan

Padang, 2009

(dimuat di Koran Sindo, 15 Februari 2009)

Oleh: riosy | Februari 9, 2009

er82nt602179-021

Oleh: riosy | Januari 29, 2009

HOMOSEKSUAL

Oleh Rio SY

www.kompas.com

www.kompas.com


Tak banyak orang yang mengerti tentang homoseksual, dan tak banyak pula yang ingn memperbincangkan
Sejak Indonesia membuka kran demokrasi di tahun 1998, relasi hubungan seksual sejenis juga semakin terbuka, walaupun keterbukaan ini berada di dalam tingkat komunitas dan bukan pada tingkat nasioal.
Homo seks bergerak dan ada dalam lingkup komunitas. Cara berada seperti ini memungkinkan untuk menciptakan nilai-nilai baru, ingin mencari pemahaman baru tentang diri mereka. Makna dan Baca Lanjutannya…

Oleh: riosy | Januari 29, 2009

Pedati, Pedati

Oleh Rio SY
(Dimuat di Lapung Pos, 12 Okt 2008)

pedatiIa duduk berjuntai kaki di bagian belakang bak pedati. Bersandar pada papan menyanggah tumpukan padi yang berkarung-karung banyaknya. Ia terus memandangi segala yang ditinggalkan.
Ia menahan nafas.
Derak kayu bak pedati semakin berisik dan keras bunyinya. Tumpukan padi itu sedikit berayun. Seperti mau runtuh. Pedati bagai mau patah.
Tentu. Tentu saja pedati itu berderaknya kuat sekali, sebab beban yang ditanggungnya tidaklah sedikit. Di atas bak itu ada beberapa karung padi yang tumpukkannya melebihi tinggi bak. Padi yang hendak dibawa ke Balaiselasa. Sebab di sana perputaran uang jual beli beras lebih cepat dibanding dengan Painan. Jadi begitulah seorang pedagang mengharapkannya. Sehingga Balaiselasa menjadi salah satu tempat pilihan yang memenuhi syarat bagi si tukang pedati tersebut. Baca Lanjutannya…

Oleh: riosy | September 10, 2008

Ayek

Oleh Rio SY
(Padang Ekpress, 29 Juni 2008)

rio sadja

karya: rio sadja


Ayek Bainah, perempuan tua, istri dari seorang mantan saudagar kaya di negri ini. Ayek Surin nama suaminya itu. Begitulah orang-orang pesisir memanggil orang yang telah tua dengan panggilan ayek.
Ada yang membuatku penasaran dengan kegemaran ayek Bainah yang sangat suka bertandang ke rumah-rumah penduduk sekitar. Bukanlah lantaran ia bosan menemani suaminya yang saban hari di rumah-rumah saja. Kata orang, kegemaran ayek Bainah bertolak belakang dengan suaminya yang jarang keluar rumah semenjak pelabuhan yang tidak jauh dari rumahnya itu tutup. Seiring itu pula usaha perdagangan suaminya kian merosot.
Dulu mereka sangat kaya, hampir seluruh perdagangan di pelabuhan kecil itu suaminya yang menguasai. Tapi kini tepi pelabuhan itu menjadi pasar dan hanya sepetak toko yang masih bertahan sebagai sisa kejayaannya di masa lampau. Uang sewa toko itulah yang menghidupi hari tua mereka. Pelabuhan itu pun hanya tinggal sebuah sungai yang luas dengan air matinya (air yang sudah tidak mengalir lagi). Bekas pelabuhan itu pun kini telah semak oleh tumbuhan-tumbuhan liar. Dan entah oleh karena apa akhirnya mereka bangkrut. Semenjak itu orang-orang kampung jarang sekali melihat ayek Surin keluar dari rumahnya kecuali istrinya ayek Bainah yang sangat suka berjalan-jalan seputar kampung, lalu singgah di rumah penduduk.
Baca Lanjutannya…

Oleh: riosy | September 10, 2008

Senapan Mesin Surin

Oleh Rio SY
(Singgalang, 6 Januari 2008)

bulakamba.files.wordpress.com

sumber: bulakamba.files.wordpress.com


Ketika Surin harus bangun dari tidurnya, ia mendapati istrinya berganti dengan sebuah senapan mesin. Di sampingnya, di tempat tidur. Surin mengira kalau istrinya benar-benar berubah menjadi sebuah senapan. Tapi kemudian ia mencoba mambantah ketidakmasuk-akalan ini. “Tak mungkin,” tak mungkin pikirnya. Dan kantuk pun dilanjutkan kembali untuk tidur sejam berikutnya. Surin berpikir bahwa itu adalah sisa-sisa dari mimpinya.
Seperti terbangun karena mimpi buruk Surin tersentak dan mulai menyadari bahwa itu bukan sisa mimpinya. Senapan itu dipandangi lekat-lekat. Tak berkejap. Lalu mengusap-ngusap matanya mencoba meyakinkan lagi kalau apa yang dilihatnya adalah benar. Ia tahu, semenjak ia lahir tak pernah melihat dengan mata telanjang senapan mesin seperti ini, apalagi memilikinya. Dan seperti yang ia ingat, ayah atau kakek atau kakek buyutnya bukan seorang tentara atau polisi. Jadi tak mungkin senapan mesin pernah ada di rumahnya. Entah kapan dan bagaimana hal itu tiba-tiba saja bisa terjadi.
Baca Lanjutannya…

Oleh: riosy | September 10, 2008

Orang-orang Kuat

Oleh Rio SY
(Ganto, Edisi No. 146/Agust-Sept 2008)

image-google.com

sumber: image-google.com


Mungkin karena An adalah seorang perempuan, ia merasa terlalu hina berada di balik jeruji besi. Mungkin pula karena malu bila orang lain tahu bahwa ia dipenjara. Mungkin itulah yang mendorongnya untuk menguak jeruji besi itu. Seperti kawat kecil saja jeruji itu ia bengkokkan. Tampak sekali ia tak terlalu susah melakukannya.
An bukanlah seorang tukang sihir atau dukun, atau semacamnya. Tidak ada yang tahu bagaimana An melakukannya. Belumlah sampai jeruji tersebut dikuaknya lebar-lebar agar tubuhnya bisa lolos dari sana, mendadak seorang lelaki datang mecegatnya.
“An, jangan. Kau melakukannya lagi?”
“Kal. Aku, aku tak sadar. Semuanya di luar kendali.”
Baca Lanjutannya…

Oleh: riosy | September 10, 2008

Dua Mata

Mata Ibu

image-google.com

sumber: image-google.com


demikian tuntasnya halaman
dari perdu dan dedaunan tumbuh
kau ajak aku
melewati alis, kelopak,
dan pupil. lalu
kuiringi lari kaki
Baca Lanjutannya…

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori