Oleh: riosy | April 10, 2009

Malam Sampelong

masih akan ada ketukan kecil di jendela kamar
dari jari yang gigil ingin menyuapkan nasi ke bibirmu
sebab sejambu cium akan terbelah di sana
dibelah belati dari asahan tangan para perambah rimba

pada malam-malam nakal
dan ringkik jangkrik hampir diam
hanya terdengar lenguh engsel ketika membukanya
semacam ratap dawai rabab

ulurkan gerai rambutmu atau julaikan alas kasur
tapi kau duduk saja mendengar lagu malam
hingga lusuh, kendati jam tidur telah menjadi pasti
di setiap jengkal derak dipan
idamkanlah baju ganih berdeta emas
dingin menyentak setelah setali rambut ditarik sisir
dalam cermin yang membagi wajah menjadi dua
wajah kita
seperti yang kau inginkan

masih akan ada jelangan di pintu belakang
berjingkat di kaki pencuri
diam-diam mengambil wangi tubuh di lipatan
baju dan lingkar subang yang ditanggal sebelum tidur
kemudian menjadi canggung yang tanggung
dalam hilang yang tak tertebak raibnya
di antara gigil ketukan. segigil puisi yang terbaring
di atas kertas. tempat kita masih akan saling
menyapa tanpa harus jatuh cinta

Padang, 2008
(dimuat di Padang Ekspres, 5 April 2009)


Beri tanggapan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Kategori