Oleh: riosy | Maret 23, 2009

Pengkhianatan Intelektual

Sastrawan Ragdi F. Daye dalam salah satu esainya yang dimuat di sebuah media massa, ia menulis “bubarkan saja Fakultas Sastra”. Kalimat ini sempat memicu pro dan kontra. Baik dari kalangan akademisi sastra maupun tidak. Hal senada juga pernah diucapkan oleh seorang pejabat dalam pidatonya, kurang lebih beliau mengatakan, jangan sampai jurusan teknik seperti jurusan sastra.
Kalimat tersebut di atas terdengar sumbang. Apa hubungannya jurusan sastra dengan jurusan teknik? Tetapi bila ditelusuri lagi latar belakang keluarnya ucapan tersebut, maka akan ada benarnya.
Jurusan teknik seidealnya mampu menelurkan akademisi yang berkopetensi di bidangnya, misalnya membuat sebuat alat ataupun inovasi. Di UNP (Universitas Negri Padang) jurusan teknik barangkali telah mencapai harapan tersebut. Hal ini terbukti dengan lolosnya mahasiswa UNP menuju PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) bidang teknologi 2008 lalu di Semarang. Sejumlah proposal PKMT (Pekan Kreatifitas Mahasiswa Bidang Teknologi) juga lolos untuk tahun 2009 ini. Namun untuk PIMNAS 2008 tak ada satu pun proposal bidang sastra dari mahasiswa UNP.
Lalu ke manakah mahasiswa sastra UNP? Ada apa dengan mereka? Jadi, kalimat yang dilontarkan dengan nada sumbang di atas dapat kita maklumi. Mungkin tidak perlu kita anggap PIMNAS sebagai standar pencapaian bagi mahasiswa sastra. Media massa berupa koran ataupun buku bisa juga kita jadikan acuan dalam pencapaian mahasiswa sastra di bidangnya. Tetapi sangat disayangkan sekali, begitu sulitnya menemukan tulisan mahasiswa sastra UNP baik berupa esai, artikel, cerpen maupun puisi di media massa. Jangankan untuk menulis tulisan-tulisan popular, ketika akan menyusun skripsi (sastra) pun masih banyak yang merasa bingung dengan teori.
Di koran kampus Ganto pun malah nama yang sering muncul sebagai penulis adalah mahasiswa yang bukan dari jurusan sastra. Hal ini tidak bermaksud menitik beratkan beban kepada mahasiswa sastra. Dan bukan berarti pula mahasiswa yang bukan jurusan sastra tidak boleh dan tidak mampu menulis. Tetapi pertanyaannya adalah apakah ini menandakan bahwa mahasiswa sastra dikalahkan mahasiswa lain di bidang kepenulisan dan pemikiran? Dikalahkan di bidangnya sendiri.
Bagaimanapun juga, mahasiswa sastra atau pun dosen sastra memiliki tanggung jawab untuk meneruskan budaya menulis. Kalau pun bukan tanggung jawab budaya, paling tidak adalah tanggung jawab akademis sebagai kaum yang menekuni disiplin ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia/Inggris. Jika bukan mereka, lalu siapa lagi?
Dosen sastra pun menyayangkan hal ini dengan ujaran yang kerap terdengar adalah “saya tidak lagi melihat mahasiswa berkumpul dan berdiskusi” atau “saya tidak lagi melihat mahasiswa memegang buku Plato di tangannya”. Tetapi, apakah sepenuhnya semua ini kesalahan mahasiswa sastra? Kegagalan ini juga merupakan kegagalan jurusan sastra dalam menciptakan mahasiswa yang berkopetensi di bidangnya. Sebab, idealnya jurusan sastra adalah dapat melahirkan para akademisi sastra yang akan menyumbangkan pikirannya untuk membangun dunia kritis serta sastra itu sendiri.
Kalau pun tidak melahirkan cerpenis, esais atau penyair, jurusan sastra mesti menetaskan kritikus sastra atau akademisi sastra. Karena, di jurusan inilah segala metode dan teori sastra dipelajari secara akademis dan sistematis. Dengan ilmu yang diperoleh itu, maka harus diaplikasikan demi sebuah tanggung jawab intelektual.
Mungkin ini adalah salah satu bentuk “pengkhianatan intelektual” yang dimaksud Soe Hok Gie dalam salah satu esainya.
Di lain sisi, UNP telah sangat berhasil menciptakan akademisi bidang pendidikan. Tetapi tidak harus dilupakan bahwa UNP adalah sebuah universitas bukan IKIP lagi. Begitu pula dengan jurusan sastra, di program studi Bahasa dan Sastra Indonesia UNP memiliki dosen sastra yang masih belum memadai secara kuantitas. Dan tidak ada pemisahan antara linguistik dengan sastra seperti yang telah dilakukan oleh Jurusan Bahasa Inggris. Tetapi letak permasalahannya bukan pada pemisahan atau tidaknya.
Dosen pendidikan dan linguistik lebih mendominasi di jurusan sastra UNP. Dan wajar saja para dosennya seolah mengarahkan dan mempersiapkan mahasiswanya untuk menjadi guru dan linguis. Sehingga mahasiswa sastra sendiri tidak memiliki panutan yang memadai pula di bidangnya. Lalu siapa yang harus mengarahkan mahasiswa sastra untuk menjadi akademisi sastra (kritikus sastra) yang baik bila mahasiswa sastra sebegitu malasnya?

Ruangsempit| Padang, 2009


Beri tanggapan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Kategori