Oleh: riosy | Februari 17, 2009

Hari Panen

(mata sabit)

setiap angin hinggap pada sebuah bulan
yang setajam mata sabit
menebas hari-hari panen
kubayangkan sesak nafasmu
menghitung butir hampa berat
yang tak terpisah bernas
tak ditiup penggirik yang memutar
ayun tangan petani membuat pusaran
menghisapku dalam-dalam
lantas melepasku pada sawah yang lain
sawah yang menghamparkan para peadu layanglayang

kita sama-sama mengasah benang
setiap kali disentakkan, putus, dan lepaslah rindu
yang diulur panjang
berlarian anak orang dari masa lalu
mengejar kepergian yang terkadang hinggap
pada sebuah bulan setajam mata sabit
menebas hari-hari panen

Padang, 2009

(Dimuat di Koran Sindo, 15 Februari 2009)


Beri tanggapan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Kategori