Oleh: riosy | September 10, 2008

Senapan Mesin Surin

Oleh Rio SY
(Singgalang, 6 Januari 2008)

bulakamba.files.wordpress.com

sumber: bulakamba.files.wordpress.com


Ketika Surin harus bangun dari tidurnya, ia mendapati istrinya berganti dengan sebuah senapan mesin. Di sampingnya, di tempat tidur. Surin mengira kalau istrinya benar-benar berubah menjadi sebuah senapan. Tapi kemudian ia mencoba mambantah ketidakmasuk-akalan ini. “Tak mungkin,” tak mungkin pikirnya. Dan kantuk pun dilanjutkan kembali untuk tidur sejam berikutnya. Surin berpikir bahwa itu adalah sisa-sisa dari mimpinya.
Seperti terbangun karena mimpi buruk Surin tersentak dan mulai menyadari bahwa itu bukan sisa mimpinya. Senapan itu dipandangi lekat-lekat. Tak berkejap. Lalu mengusap-ngusap matanya mencoba meyakinkan lagi kalau apa yang dilihatnya adalah benar. Ia tahu, semenjak ia lahir tak pernah melihat dengan mata telanjang senapan mesin seperti ini, apalagi memilikinya. Dan seperti yang ia ingat, ayah atau kakek atau kakek buyutnya bukan seorang tentara atau polisi. Jadi tak mungkin senapan mesin pernah ada di rumahnya. Entah kapan dan bagaimana hal itu tiba-tiba saja bisa terjadi.

Surin belum berani menyentuh benda itu walaupun sesekali mendekatkan kepalanya, lalu manjauh kembali. Surin turun dari tempat tidur.
“ Yati ! “ Beberapa kali ia memanggil istrinya, namun tak ada jawaban.
” Yati, yati !“ masih dengan hasil yang sama. Beberapa jenak surin melirik jam dinding. Pukul 07.40. tentu saja istri dan anaknya tak di rumah. Seperti biasa, jam sebegini ini sang istri mengantarkan anaknya ke sekolah. Dan biasanya pada jam sebegini ini surin juga mesti bersiap-siap mencari nafkah untuk keluarganya. Tanpa terkecuali untuk hari ini, meski senapan mesin itu masih menggangu pikirannya, bahkan ketika ia di kamar mandi. Ia mencoba mengira-ngira kemungkinan yang masuk akal atas keanehan ini.
Senjata itu masih belum disentuhnya. Masih di tempat tidurnya. Tapi yang namanya senjata tentu saja dapat di gunakan untuk menembak. Jika yang ditembak itu adalah makluk hidup dapat dipastikan mati, terlebih-lebih jika ditembak di bagian kepala dan jantung. Surin tahu di bagian itu amatlah rentan seperti yang biasa dilihatnya pada acara kriminal di televisi di warung tempat ia mangkal.
Lain kata benda ini dapat menjadikan siapa saja menjadi pembunuh, termasuk Surin. Dan jika senapan mesin ini diketahui apalagi diambil orang lain, ini akan berbuntut panjang dan berbahaya. Tak dapat dipastikan orang yang mengambil senapan ini tidak menembakkannya pada oang lain. Dengan begitu surin bersegera mengambil sebuah kain untuk menutupi benda tersebut. Tentu saja, siapa saja berpeluang melihat senapan ini meski hanya dari luar jendela. Bila salah satu dari mereka saja sempat melihat Surin menyimpan senapan ini maka akibatnya akan buruk. Surin bisa dituduh teroris atau orang jahat.
Dalam pikiran yang berputar itu tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki dan teriakan-teriakan yang tak jelas. Bukan satu atau dua orang, tapi berpuluh dan bahkan ratusan. Mendadak dada Surin bergetar hebat. Jangan-jangan senapan ini diketahui seseorang, kemudian mengadukan kepada warga. Warga menjadi marah dan menuduh saya adalah teroris. Mungkin mereka berniat mendemo Surin kemudian memukulnya sampai babak belur. Karena tidak puas, lalu dalam hiruk pikuk itu beberapa warga mengambil bensin lalu menyiramkannya ke tubuh Surin. Membakarnya.
Secepat kilat Surin meraih senapan mesin itu dan membalutkan kain untuk menutupinya. Benda itu kini dipeluknya. Erat sekali. Surin berlari ke arah jendela untuk memastikan apa yang sedang terjadi di luar. Berbondong-bodong_tak hanya warga bahkan mahasiswa beserta orang-orang dari berbagai profesi berjalan ke arah yang sama, tapi ternyata bukan ke rumah Surin. Mereka lewat begitu saja. Tampaknya menuju jalan utama kota.
Surin semakin bingung dengan apa yang sedang terjadi diluar. Karena penasaran Surin menaruh benda yang tadi dalam pelukannya ke bawah bangku becaknya. Becak reot yang telah menemaninya selama bertahun-tahun. Becak ini pulalah yang telah membantunya memenuhi nafkah anak dan istrinya walau hanya pas-pasan. Cukuplah untuk makan siang dan malam dan lebihnya dapat menyekolahkan anaknya hingga SMP. Di bawah bangku becak itulah yang dirasa aman untuk menyembuyikan benda berbahaya itu. Dapat dipastikan orang lain tak bisa melihatnya jika tidak memeriksanya. Karena bila saja senjata itu ditinggal di rumah tentu saja akan berakibat buruk bagi hidup Surin. Bisa saja ditemukan istrinya tercinta.
Sempat terlintas di pikiran untuk membuang senjata tersebut ke sungai atau mungkin ke laut. Sebab, seperti yang pernah ditontonnya di televisi tentang tentara-tentara Barat yang menjejakkan kakinya di Timur Tengah membunuh dengan senjata seperti ini. Ya, walaupun tidak sama persis. Tapi tetap saja mematikan dan semua orang tahu itu. “Menelan korban ratusan bahkan ribuan nyawa,” kata pembawa acara berita.
“ Atau senapan ini kutembakkan saja ke kapala haji Amin. Dengan begitu hutangnya kepada haji itu dengan sendirinya akan terlupa,” pikir Surin. “ Mestinya kubunuh saja Sipan keparat itu dengan senapan ini. Kekayaannya telah membuatnya sombong dan tanpa basa-basi merendahkan dan suka menghina orang-orang seperti aku. Pernah suatu kali istrinya yang sombong memaki-maki istriku karena ada noda yang belum bersih pada bajunya yang dicuci istriku. “Dasar tukang cuci miskin!” Begitu katanya. Kemudian dengan seenaknya ia pergi begitu saja dan tak membayar pekerjaan istriku.”
“ Atau kubunuh mertuaku yang cerewet karena ia tak dapat ku belikan rumah. Rumah darimana coba? Untuk makan sehari-hari saja susah. Tidak, tidak, aku masih memiliki nurani meski aku hanya seorang tukang becak. Aku tak boleh lebih kejam dari pejabat-pejabat itu. Lebih baik kujual saja senapan ini ke pasar loak, siapa tahu laku. Tunggu, tak mungkin, ini akan sama buruknya dengan semua kemungkinan. Akan lebih aman jika senapan ini tetap bersamaku.”
Dengan seribu pikiran Surin mengayuh becaknya seiring arah jalan orang-orang. Semuanya tampak kacau. Tadinya orang-orang berlari ke arah yang sama, kini mereka seperti lebah guncah. Orang-orang berlari dari dan ke semua arah. Bergalau sekali. Entah apa yang sedang terjadi pada mereka. Surin masih mengayuh becaknya di antara kerumunan yang guncah itu.
Akhirnya Surin dan becaknya sampai juga di jalan utama kota. Di sana-sini tak terkendali. Semuanya benar-benar tak terkendali. Orang-orang memecahkan kaca-kaca etalase toko-toko. Kemudian menjarah apa saja yang ada di dalamnya. Tak tanggung-tanggung, mobilpun dijarah tanpa belaskasihan. Dan lebih anehnya lagi, polisi-polisi tak bergeming. Mereka hanya menonton keributan itu.
“ Hai, hati-hati ! kau bisa terluka ,” kata Surin pada salah seorang pejarah yang kebetulan melintas di depannya. Namun tak sedikitpun nasehat Surin diindahkannya. Sempat melintas di benak Surin untuk manembakkan senapannya pada pejarah-pejarah itu agar mereka menghentikan perbuatan mereka.
“ Revolusi, revolusi, revolusi,” teriak orang-orang menuju pusat kota.
Surin pun semakin penasaran. Diikuti pula orang-orang yang meneriakkan kata revolusi itu. Namun beberapa meter setelah itu. Surin tak bisa lagi meneruskan jalannya dengan becak, sebab kerumunan orang-orang semakin bertambah. Dan tak mungkin barisan massa ini ditembus.
Surin turun dan meraih senapan mesin yang telah ia gulung dengan kain sehingga tak terlihat sebagai sebuah senapan. Akan menjadi tragedi bila senapan itu harus dibuka dari kain yang membungkusnya. Bagaimana tidak, dan bagaimanapun surin harus mengkhawatirkannya.
Surin berjalan di antara orang banyak tersebut. Ternyata orang-orang sedang menuju Gedung Perwakilan Rakyat. Tapi pagar utama gedung itu tertutup dan dijaga oleh ratusan tentara. Mereka membentuk pagar betis. Surin semakin bingung “ Ada apa ini. Apa itu revolusi.” Baru kali ini Surin mendengar kata itu. Paling tidak ia pernah mendengarnya di sekolah waktu kecil dulu. Tapi itu sudah terlalu dulu.
Secara mendadak orang-orang yang berada di depan Surin berbalik berlari ke arahnya. Dan Surin pun terseret arus dan terjatuh, namun masih bisa bangun kembali. Ternyata orang-orang bergegas untuk naik ke bus kota-bus kota yang kebetulan ada di sana. “ Woi, orang itu memiliki senjata.” Teriak seseorang kepada Surin. “ Ayo pak ! naik ke sini pak “ belum sempat Surin berpikir, tangannya sudah diseret dan dalam sejenak ia sudah berada di dalam bus.
“ Mau kemana ini. Aku tak tahu apa-apa “
“ Pokoknya bapak ikut saja “
Surin naik dan dengan segera bus itu meluncur. Sebelum bus sampai dan berhenti di depan kantor polisi, Surin bertanya pada salah seorang dari mereka.
“ Ada apa ini ? “
“ Revolusi pak, revolusi.”
“ Ayo pak ! lindungi kami dengan senjata ini, “ ujar yang lain.

“ Tembak saja mereka pak, jika mereka tak mau menyerahkan senjata mereka ,“ teriak salah seorang.
Para polisi yang sedang bertugas di sana menjadi ketakutan melihat massa yang begitu banyak. Terlebih ancaman dengan senjata yang ada di tangan Surin. Sempat seorang polisi mengacungkan pistolnya namun dibalas oleh Surin. Surin mengacungkan pula senapannya. “ Berikan saja pistolnya atau kita sama-sama mati di sini.” Polisi-polisi pun tanpa perlawanan menyerahkan senjata mereka kepada massa.
“ Nama bapak siapa pak,” Tanya seorang mahasiswa.
“ Surin.”
“Hidup bapak Surin ! Hidup pak Surin ! “ Sorak mereka.
“Hidup ! “
Orang-orang bersorak-sorak meneriakkan nama Surin. Mereka mengangkat Surin bersama-sama seperti seorang pahlawan. Setelah masa dapat mempersenjatai diri. Mereka kembali ke Gedung Perwakilan Rakyat. Surin, pahlawan mereka itu tentu saja ikut melanjutkan perjuangan bersama mereka. Tapi Surin tetap saja merasa bingung dan malah mulai pusing sebab semuanya terjadi serentak secara tiba-tiba dan kebetulan.
Dalam hiruk-pikuk itu Surin teringat istriya. Bagaimana jika istrinya terjebak di jalan dalam kerumunan masa ketika pulang mengantar anaknya. Istrinya tidak seperti istri orang lain yang punya badan yang gemuk. Bahkan dapat dikategorikan kurus, sama sepertinya. Dan bila saja ia terjebak dalam kerumunan orang-orang yang tak terkendali ini? Surin tak sanggup membayangkan istrinya terinjak-injak oleh masa yang tak sedikit ini.
Ia teringat anaknya pula. Dalam situasi yang seperti ini mungkin istrinya sudah berada di rumah sakit_lebih parahnya tergeletak di jalan tentu tak ada yang akan menjemput anaknya yang baru kelas dua itu. Mau tak mau anaknya harus pulang sendirian karena guru-gurunya tak akan acuh pada anak dekil seperti anaknya. Jika ia pulang sendirian maka akan lebih buruk lagi. Tersesat karena tak ingat jalan pulang atau terjebak sama seperti ibunya.
“ Kiri pak, kiri! Aku mau nyusul anak dan istriku.”
“ Kenapa dengan anak dan istri bapak?”
“ Justru itu aku belum tahu bagaimana mereka sekarang. Kiri pak !” Tapi bus tetap malaju.
“ Percayalah pak, mereka takkan apa-apa.”
“ Bagaimana saya bisa tahu kalau tak bertemu mereka. Saya harus menolong keluarga saya.”
“ Di sinilah bapak menolong keluarga bapak. Tentu bapak tak ingin selamanya hidup tertindas seperti ini bukan? Dengan begini bapak tak hanya menyelamatkan keluarga, tapi juga menolong rakyat sekaligus.”
“ Saya tak ngerti apa yang kau katakan.”
“ Bapak ingin menyelamatkan anak dan istri bapak bukan ?”
“ Ya.” Surin mengangguk.
“ Inilah jalannya untuk menyelamatkan masa depan anak dan istri bapak.”
“ Kenapa?”
“ Bila kita berhasil menumbangkan kekuasaan yang carut-marut ini, maka nanti dengan segera pemerintahan akan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan rakyat. Yang kita inginkan adalah biaya pendidikan dan rumah sakit yang murah, BBM murah, penurunan harga sembako.”
Surin mengusap peluhnya yang bercucuran. Matanya menerawang ke luar jendela bis. Dilihatnya pedagang-pedagang buah-buahan bersorak mengangkat tangan dengan jari terkepal. Ada senyum di susut bibir mereka. Begitu pula dengan ibu-ibu penjual sayur di lokasi itu. Ada senyum juga. Ibu-ibu itu seperti mensenyumkan senyuman istrinya. Surin menurunkan pandangannya ke senapan mesin yang tak lepas dari pegangannya.
Kepala Surin yang terpaku tiba-tiba disentakkan oleh orang-orang dalam bis yang berdesakan keluar. Surin juga ikut terseret ke luar dari bis. Ternyata sudah sampai di depan gedung, 200 meter di depan gedung tepatnya. Jalanan dibanjiri oleh manusia-manusia. Sulit dibayangkan akan dapat dikendalikan dengan segera.
Mahasiswa-mahasiswa yang keluar dari bis, masing-masing telah siap dengan senjata rampasan. Ini benar-benar sebuah revolusi menumbangkan kekuasaan. Dan hari ini akan menjadi hari yang melelahkan. Semangat amarah terasa di mana-mana. Begitu pula dengan rombongan mahasiswa bersenjata yang bersama Surin. Di dalam itu Surin baru menyadari betapa sulitnya hidup dengan harga sembako yang terus meningkat. Namun ia masih menyimpan kerisauan dan ketidakmengertian.
Di sebuah sudut di pinggiran kota, sebuah warung dirubungi oleh orang-orang yang ingin menonton perkembangan terakhir demonstrasi. Beberapa jenak kemudian secara serempak mereka bersorak penuh dengan nada kemenangan. Para demonstran berhasil menduduki gedung perwakilan rakyat. Di antara orang orang itu berdiri seorang wanita beserta anaknya yang berseragam sekolah. Ia melihat seorang tukang becak yang sangat ia kenal berada dalam barisan demonstran. Ia menangis tapi tersenyum.

Hanggarjet-Ruangliku, 2007

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
(Singgalang, 6 Januari 2008)


Beri tanggapan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Kategori