Mata Ibu
demikian tuntasnya halaman
dari perdu dan dedaunan tumbuh
kau ajak aku
melewati alis, kelopak,
dan pupil. lalu
kuiringi lari kaki
jejer pohon hingga ke ujung
dedaunan membentuk bayangbayang
akar di tanam dalamdalam
pohonan ini untukmu
sungguh, ibu?
kalau begitu aku mau jadi pohon
dalam matamu
(RuangSempit, 2008)
Mata Ayah
kumasuki malam
lewat lipat pintu matamu, ayah
ada jenjang yang biasa kunaiki
di sana, mampu kuberlari
walau tersandung terumbu alu
matamu lingkar bulan
tiap kali aku menengadah
rasanya ingin ku mengembara
dalam samaran anakanak
membuka jeruji diri sendiri
dalam malam matamu
kutaklukkan masa silam
kukalahkan raksasa hitam
kuselamatkan putri derita,
senyum, dan lingkar purnama
sebelum kau menutup
bagai buku usai dibaca
(RuangSempit, 2008)
