Oleh: riosy | September 10, 2008

Ayek

Oleh Rio SY
(Padang Ekpress, 29 Juni 2008)

rio sadja

karya: rio sadja


Ayek Bainah, perempuan tua, istri dari seorang mantan saudagar kaya di negri ini. Ayek Surin nama suaminya itu. Begitulah orang-orang pesisir memanggil orang yang telah tua dengan panggilan ayek.
Ada yang membuatku penasaran dengan kegemaran ayek Bainah yang sangat suka bertandang ke rumah-rumah penduduk sekitar. Bukanlah lantaran ia bosan menemani suaminya yang saban hari di rumah-rumah saja. Kata orang, kegemaran ayek Bainah bertolak belakang dengan suaminya yang jarang keluar rumah semenjak pelabuhan yang tidak jauh dari rumahnya itu tutup. Seiring itu pula usaha perdagangan suaminya kian merosot.
Dulu mereka sangat kaya, hampir seluruh perdagangan di pelabuhan kecil itu suaminya yang menguasai. Tapi kini tepi pelabuhan itu menjadi pasar dan hanya sepetak toko yang masih bertahan sebagai sisa kejayaannya di masa lampau. Uang sewa toko itulah yang menghidupi hari tua mereka. Pelabuhan itu pun hanya tinggal sebuah sungai yang luas dengan air matinya (air yang sudah tidak mengalir lagi). Bekas pelabuhan itu pun kini telah semak oleh tumbuhan-tumbuhan liar. Dan entah oleh karena apa akhirnya mereka bangkrut. Semenjak itu orang-orang kampung jarang sekali melihat ayek Surin keluar dari rumahnya kecuali istrinya ayek Bainah yang sangat suka berjalan-jalan seputar kampung, lalu singgah di rumah penduduk.

Bila keluar dari rumahnya hendak bertandang, ayek Bainah selalu mengenakan pakaian terbaiknya. Baju kurung yang setiap hari akan selalu bertukar-tukar warnanya, dan kain jawa yang berukiran batik terlilit rapi dari pinggang hingga mata kakinya. Tidaklah pernah lupa ia mengenakan penutup kepala yang kainnya di tarik pada bagian tengah dari belakang kepala, lalu ujung kain penutup kepala itu disilangkan di atas kepalanya.
Namun ia bertandang tidaklah untuk sekedar mendapatkan teman bicara seperti perempuan-perempuan lain yang kerap saya menemukannnya sedang mencari kutu di tangga rumah sambil bergurau, lalu tertawa terkekeh-kekeh. Ia datang bukan untuk mencari kutu. Dan pembicaraannya pun tidak untuk terkekeh-kekeh.
Ia datang dengan wajah yang berseri dan senyum yang sangat tulus. Kali ini ia memilih duduk di teras rumahku yang sempit. Maka saat-saat kedatangan ayek Bainah, anak-anak yang sedang bermain akan meninggalkan mainannya, lalu menghampiri beliau. Anak-anak yang sedang tidur kalau mendengar beliau datang maka akan terjaga dengan sigapnya. Anak-anak itu berkumpul dan duduk bersila di depan ayek Bainah. Beliau akan tersenyum-senyum saja melihat tingkah anak-anak yang berebutan tempat duduk.“Eeh, jangan bersitengkar. Duduk baik-baik ya. Ayek tak jadi bercerita kalau ada yang bersitengkar.”
Semua anak-anak duduk tenang. Mereka semua terdiam menunggu cerita yang akan dikisahkan oleh ayek Bainah. Ada yang melongo dengan dagu yang jatuh sehingga mulutnya terbuka dan ada lalat yang terbang berputar-putar di depan mulutnya, ada yang senyum-senyum, ada yang melotot marah pada temannya yang hendak berbicara padanya.
“Nah, sekarang kita mau apa?”
“Cerita…!” Jawab anak-anak serentak.
“Cerita kita sekarang adalah cerita tentang ‘hujan batu’.”
Sudah tak terhitung berapa kali ayek Bainah bercerita. Entah sudah berapa banyak dongeng yang diceritakannya kepada anak-anak kampung. Sudah semua dongeng yang ia tahu telah diceritakannya, bahkan seringkali mengulang-ulang dongeng yang sudah diceritakan. Tapi anehnya, tak ada yang protes dari anak-anak itu, barangkali mereka memang tak pernah bosan meskipun telah berkali-kali mendengar cerita yang sama. Mereka tak peduli. Tetap saja menjadi sesuatu yang selalu memukau. Begitu pula bagi ayek Bainah sendiri. Ia tak ambil pusing bila ia menceritakan kisah yang sudah diceritakannya berkali-kali. Dan itu bukan hal aneh bagi orang-orang kampung, atau memang tak ada yang perlu menjadi aneh. Mengayunkan cangkul bagi mereka lebih penting ketimbang mempertanyakan tentang cerita-cerita ayek Bainah.
“Meskipun begitu,” ujarnya pada suatu kesempatan, “tetap saja ada yang pantas didengar dan ayek sampaikan lagi dari cerita-cerita itu. Mereka memerlukan itu. Mendengar cerita-cerita. Lagi pula ayek senang bersama anak-anak.”
Begitulah hari-hari yang dilewati ayek Bainah. Tak begitu istimewa, tak terlalu penting bagi banyak orang. Tak ada pula orang yang sudi mengistimewakan kebiasaannya. Tapi memang, ayek Bainah tak berkeinginan untuk dipuji oleh siapa pun, bukan sesuatu yang ia cari untuk penghargaan tertentu karena menjadi pendongeng bagi anak-anak kampung. Mungkin ia melakukannya sungguh dengan dorongan dari hatinya sesuai dengan keyakinannya akan pentingnya ia melakukan itu.
Tepat ketika penduduk tahu ayek Bainah mulai berangkat pada sore, dan setiap penduduk yang melongok dari pintu atau jendela, lama-lama juga akan menganggapnya biasa. Tiada apa pun yang mengherankan dari perangainya itu, meskipun setiap datang ia selalu dengan wajah sumringah dan tersenyum-senyum. Tak ada pula yang menganggapnya gila, tentu.
Ayek Bainah lah satu-satunya penduduk kampung yang berperangai seperti itu. Atau mungkin ada banyak ayek Bainah lain yang memiliki kegemaran dan kegelisahan yang sama di tempat lain. Karena kebiasaannya sudah menjadi hal biasa bagi orang kampung, maka aku yang baru beberapa bulan tinggal di sini pun harus menganggapnya sebagai hal yang lumrah pula. Aku atau siapa pun tentu harus melihatnya sebagai sesuatu yang wajar.
Tapi sayangnya, kegemaran ayek Bainah datang ke rumah-rumah penduduk dan memberi wajangan dongeng pada anak-anak tak memancing orang-orang kampung untuk datang ke rumahnya untuk sekedar minum kopi barangkali. Tak ada balasan atas silahturrahmi yang telah dilakukannya. Ada yang bilang, mereka segan pada suaminya yang jarang keluar rumah itu.
Langit sudah terlihat agak kekuning-kuningan pertanda telah berada di ambang petang. Burung-burung pipit berbondong-bondong terbang menuju sarang setelah puas mencari makan di sawah yang tengah berisi dan menguning.
“Maka si Bujang pun kembali pulang.” Itulah kalimat penutup cerita hari ini dari ayek Bainah. “Sekarang semuanya pulang, mandi, lalu bersiap-siap ke surau, ya!”
Anak-anak itu pun bubar, pulang ke rumahnya masing-masing dengan sekelumit kesimpulan sesuai dengan imajinasinya masing-masing.
Aku menghampiri ayek Bainah yang masih duduk mengamati anak-anak yang satu-persatu berlalu meninggalkannya. Aku menarik senyum, dan dibalas pula oleh senyum. Banyak yang hendak kupertanyakan pada beliau tapi aku tak tahu harus memulainya dari mana. Tiba-tiba dari tengah-tengah senyumnya ayek Bainah memulai pembicaraan.
“Dulu, orang japang suka mengambil beras orang-orang kampung. Siapa yang tidak mau memberikannya akan dipukuli dengan hulu senapan. Suamiku, Surin, acap mendapatkan pukulan itu lantaran ia tak sudi memberikan beras. Sejak itu orang japang itu kesal dan mengambil beras kami tanpa menyisakannya sedikitpun. Dan acap pula barang dagangan suamiku diperlakukan semena-mena, dibeli dengan harga murah, dan sampai akhirnya mereka mengobrak-abrik toko-toko, dan merusak semua isinya. Sampai-sampai suamiku berkata ‘mati kelaparanlah orang-orang japang itu’. Ternyata benar-benar terjadi. Beras-beras yang dirampas dari orang kampung itu tak bisa dimasak. Dari pagi beras itu dijerang di atas tungku, sampai pula pada waktu isya beras itu tidak juga masak-masak. Lalu, karena takut bercampur marah, mereka mencampakkan semua beras-beras itu ke laut.”
Ayek Bainah tertawa mengenang kejadian itu. Aku pun ikut tertawa. Ayek Bainah memang pandai bercerita, pantaslah anak-anak terkagum-kagum mendengar cerita beliau. Aku saja hampir larut dengan cerita beliau ini.
Ayek Bainah bangkit dari posisi duduknya.
“Singgah-singgahlah ke rumah,” ujar ayek Bainah padaku dengan simpul senyumnya, ketika hendak pulang. Sebagai orang yang baru bermukim di kampung ini dan paham agenda rutin beliau, aku menyambutnya dengan senang hati dan perasaan yang takjub. Orang pendatang seperti aku, tak biasa mendapat tawaran seperti itu. Maka ketika ayek Bainah berkata dengan setulus itu, aku cepat-cepat menjawabnya dengan senyuman dan segera menyanggupinya bahwa kapan-kapan aku akan mampir ke rumahnya walau hanya untuk sekedar minum kopi dan berbincang-bincang tentang anak-anak atau apa saja. Selain itu aku juga penasaran untuk berkenalan dengan suaminya.
Sampai di rumah, ayek Bainah langsung ke belakang rumah. Dua ember air yang ditimbanya dari sumur daimasukkan ke dalam penyaringan. Air mencucur dari sana, ditampung untuk berwudhu. Usai berwudhu, lalu kembali ke dalam rumah. Sekilas dilirik suaminya yang sedang duduk di ruang tengah.
“Bainah, buatkan aku kopi!”
“Nantilah, sesudah shalat.”
“Nah, benarkan. Kau tak mau mengahabiskan waktu bersamaku. Kau lebih suka menghabiskan perhatianmu untuk anak-anak kampung itu. Sehingga tak ada lagi sisa untukku. Harus bagaimana lagi aku mengatakannya pada kau. Jangan melala juga. Jangan kau temui lagi anak-anak itu. Aku tak suka kau terlalu banyak bercerita, apalagi menceritakan tentang masa lampauku dan negri ini. Kenapa kau tak mau mendengarkan aku?!”
“Aku shalat dulu.”
Mata dan muka ayek Surin memerah. “Ternyata kau memang tak mau menghargaiku! Mulai besok tak ada lagi waktu untuk bertandang ke sana ke mari. Tak ada lagi dongeng, cerita, dan semacamnyalah! Pokoknya kau di rumah saja. Aku tak mau tahu. Sudah habis sabarku melihat perangaimu. Kalau kau pergi juga, sekalian saja tidak balik-balik.”
“Kita tidak bisa bertengkar terus seperti ini. Kita sudah ini tua. Tidak baik.”
“Aku juga sudah bosan seperti ini, bosan melihat kau pergi duduk bersama anak-anak itu. Makanya aku tidak ingin kau pergi tak tentu arah serupa itu.”
Ujung bibir ayek Bainah seperti tertarik ke samping. Dadanya sesak. Perlahan turun air yang membentuk benang hujan dari matanya membasahi pipinya yang keriput.
“Sampai sekarang aku tak habis pikir kenapa kau tak suka anak-anak. Tapi aku rela menjadi korban karena itu. Aku bersedia kita tak punya anak demi kau. Tapi batinku ini tak bisa.” Suaranya terputus-putus karena perasaan itu tersekat di tenggorokannya. “Aku ingin seperti orang-orang, menceritakan dongeng Malin Kundang pada anaknya, memanggil mereka yang sedang bermain kalau hari sudah petang dan menyuruh mereka mandi, memasangkan baju koko dan melepas mereka pergi mengaji ke surau. Aku rindu seperti itu. Aku rindu.”
***
Sudah beberapa hari ini tak kulihat ayek Bainah keluar rumah. Sepanjang itu pula anak-anak kampung tak mendengar cerita-cerita tentang negri antah berantah. Padalah pada jam-jam di mana ayek Bainah muncul dengan senyum indahnya mereka telah bersiap-siap menyelesaikan permainan mereka. Tapi kupikir itu biasa, barangkali saja ayek Bainah sedang sibuk di rumah. Mungkin ada sanak saudaranya dari jauh datang dan menginap. Mungkin suaminya ayek Surin sedang sakit, jadi ia habiskan waktunya untuk merawat sang suami. Atau jangan-jangan ayek Bainah sendiri yang sakit.
Dan hari ini adalah hari ke delapan aku tak melihat ayek Bainah. Maka pada senin yang cerah aku putuskan untuk sengaja datang ke rumah ayek Bainah. Aku merasa yakin aku memilih hari senin, sebab hari senin bagi orang kampung ini adalah hari yang berbahagia karena merupakan hari pertama dalam pekan. Pikiran orang-orang pasti sudah merasa segar kembali setelah istirahat di hari minggu, dan aku rasa begitu pula halnya dengan ayek Surin.
Sebelum benar-benar berangkat menuju rumah ayek Bainah, aku singgah sebentar ke balai senayan—sebuah pasar mingguan yang hanya setiap hari senin. Tentu tidaklah enak rasanya bila melenggang tangan saja ke sana, karena bagiku ayek Bainah bukan orang sembarangan, dia istimewa meskipun semuanya tampak wajar dan biasa bagi orang-orang kampung, apalagi kalau ternyata ayek Bainah benar-benar sakit. Ya, memang seharusnya begitu, tak ada perlu dilebih-lebihkan. Tapi tetap saja bagiku, ayek Bainah manusia yang istimewa. Lagi pula dia lah orang pertama dan mungkin orang satu-satunya di kampung ini yang mengundang pendatang baru sepertiku untuk mampir ke rumahnya.
Suami ayek Bainah yang mungkin akan membukakan pintu saat aku datang, atau mungkin saja tidak. Senyum ramahnya serupa senyum ayek Bainah mungkin akan meyambutku, tapi bisa saja tidak.
Terbayang olehku wajah suami ayek Bainah, ayek Surin, dengan bibir bagian atasnya terangkat mendekati hidung. Sebuah ketidakbersahabatan yang akan aku temui tampaknya. Atau suaminya sebenarnya baik, hanya wajahnya saja yang terkesan dingin dan pemarah. Sebagai pendatang baru dan tak dikenal, ini akan menjadi sangat wajar untuk mempertimbangkan aku untuk masuk atau tidak.
Atau barangkali banyak hal yang bisa aku dapat dengan mengobrol bersama ayek Surin. Aku bisa membuka percakapan menarik, tentu saja hal-hal yang lebih dekat dengan beliau, tentang perdagangan misalnya. Tentu saja, ayek Surin dulunya seorang saudagar kaya. Pula, ia pasti berpengalaman sebagai orang tua yang merasai dengan asam manis hidup. Kami akan mengobrol panjang lebar tentang perdagangan. Ia juga akan menceritakan memoar masa lalunya dengan bersemangat atau dengan marah. Astaga! Beliau pasti marah bila dicukil-cukil masa lalunya. Entah.
Aku melangkah.
Dibukanya pintu perlahan dengan ragu-ragu. Ia tidak menguak pintu lebar-lebar kecuali sedikit saja untuk melihat siapa gerangan yang datang. Matanya langsung melotot, bibirnya diam saja. Aku pun tak tahu harus berkata apa, karena memang, aku datang tanpa ada alasan yang penting, beberapa hari ini tak terlihat ayek Bainah keluar dari rumahnya. Aku merasa menjadi pengganggu ketenangan ayek Surin. Aku berharap ayek Bainah segera muncul dari balakang ayek Surin, lalu memanggil namaku dan tersenyum mempersilahkan masuk.
Aku harap ayek Surin tidak menatapku dengan mata terbelalak dan bibir terangkat seperti itu. Aku harap ia tersenyum seperti istrinya ayek Bainah ketika aku datang nanti. Kuharap aku akan mendengar dongeng-dongeng hebat tentang kampung ini dan Jepang dari mereka berdua.
Aku melangkah.

RuangSempit| Padang, 2008

(Dimuat di Padang Ekpress, 29 Juni 2008)


Beri tanggapan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Kategori