Oleh: riosy | September 4, 2008

Erangan

Oleh Rio SY
071108-0101-pembunuhans1
Aku belum terlampau lelap, sehingga, lagi-lagi suara erangan yang teramat pilu itu bisa kudengar. Walau tak begitu sempurna tetapi cukup untuk membuatku tersintak di tengah malam. Mendadak ada kecemasan yang harus kubayar dalam diriku. Suara apa gerangan yang mengerang sedemikian pilunya.
Aku mulai menyusun perkiraan, dengan anggapan-anggapan sementara. Selalu saja muara perkiraan itu sampai pada anggapan bahwa erangan itu adalah suara orang yang sedang terbunuh, sedang diregang maut. Suara kesakitan yang amat dalam. Apalagi namanya jika bukan pembunuhan yang menyisakan suara sepilu itu. Bahkan derap langkah kaki yang terdengar aneh, dan suara-suara dengan perkataan menakutkan itu semakin memperkuat dugaanku.

Benarkah? Suara itu memang harus kutemukan kebenarannya. Jika tidak demikian, mungkin tak akan pernah ada Ikarus yang mencoba terbang dengan bulu-bulu unggas yang direkatkan dengan lilin lalu dipasangkan pada kedua lengannya. Bila saja ia tak mencobanya mungkin tak akan pernah ditemukannya pesawat terbang, menerbangkan manusia seperti unggas. Mungkin aku takkan pernah tahu. Suara itu.

Tentu saja sebagai salah satu warga yang bermukin di area yang jarang di datangi orang lain di kota ini aku mesti keluar untuk menghentikan pembunuhan itu. Tapi suara itu telah menghilang. Tak ada lagi erangan, derap langkah kaki, dan dialog-dalog yang menakutkan anak-anak. Kemana perginya suara-suara tadi? Telah selesaikah? Atau tanpa sadar aku tengah bermimpi dalam tidurku. Tapi mimpi apa pula yang menghadiahi tidurku, sebab tiada mungkin aku bermimpi sedangkan aku belum pernah sebegitu lelapnya semenjak menempati apartemen murahan ini.

Apartemen murahan ini memang aneh. Dari depan tiada sedikitpun aku mengiranya sebagai apartemen. Sepintas lebih mirip gedung tua yang sudah tak layak ditempati. Tampaknya memang tak layak, tapi untung saja dewan kota melewatkan gedung ini dalam pemeriksaan kelayakan gedung. Gedung ini tampak begitu tua, tapi kupikir cukup kokoh dalam usianya. Hanya saja seperti tak pernah ada perawatan ataupun semacam renovasi. Mungkin terlalu sombong jika dilakukan renovasi terhadap gedung ini, sebab betapa pun bagusnya gedung ini nantinya, pemukiman ini sangat tidak strategis, kecuali pemiliknya siap untuk mengalami kerugian besar.

Gedung yang tak berada di pinggir jalan ini cukup kesulitan dicapai bagi yang tidak tahu tempat ini karena lokasi menjorok ke dalam. Satu-satunya jalan mencapai apartemen murahan ini adalah melewati beberapa tikungan gang. Pada tikungan yang ke lima, sebelah kiri ada pintu berwarna merah, dinding yang penuh coretan grafity, dinding kusam yang terkelupas sehingga terlihat sebagian tembok yang menyusunnya. Lengang dan bau pesing yang menyengat seperti mengucapkan selamat datang.

Sangat tidak bersahabat

Pemukiman ini bagai terlupakan begitu saja oleh warga kota kecuali bagi beberapa orang penghuninya. Seperti melupakan kleteng, nama lain dari vihara, berfungsi sebagai tempat aktivitas sosial masyarakat selain daripada fungsi spiritual sehari-hari bagi etnis Tionghoa. Paling banyak hanya tiga orang yang melintas di depan apartemen ini. Dan sah! Tempat inilah yang dibutuhkan oleh seorang karyawan rendahan dengan gaji kecil, membujang, muatan otaknya kecil sehingga mudah sekali sesak oleh tumpukan pekerjaan, maka akan lebih membutuhkan ketenangan. Jauh dari keramaian, suara mesin, suara kendaraan, dan suara bising lainnya namun harus masih tetap dalam kota agar mudah pergi-pulang ke kantor.

Gedung apartemen murahan ini terdiri dari empat tingkat dengan masing-masing lantai memiliki empat ruangan yang pengap, panas, dan kecil. Aku menempat di lantai empat meskipun di lantai satu, dua , dan tiga masih banyak yang kosong. Tapi aku lebih memilih yang di lantai empat. Dan ternyata akulah satu-satunya yang memilih tinggal di lantai itu.

“Sebaiknya kau tidak tinggal di lantai empat,” kata Bicam, penjaga apartemen—yang jangatnya keriput tak tanggung-tanggung karuannya—saat aku pertama kali datang. Rambut putihnya yang sangat rontok sehingga ia lebih mirip penderita kangker otak stadium tiga. Ia menyodor kunci ruangan yang berada di lantai dua. Aku diam tanda tak setuju.

“Aku sangat butuh bersendiri dan bertenang-tenang sepulang kerja.”

“Di lantai dua dan tiga sudah cukup tenang untukmu.”

“Tidak, pak. Di lantai empat aku bisa menghisap udara sepuas-puasnya.”

“Tapi di sana pernah terjadi pembunuhan beruntun dan….”

“Karena itu tak ada yang berani menempatinya? Karena itu bapak melarangku tinggal di sana?”

Pak tua itu menatap kasihan padaku, tapi aku lebih merasa kasihan padanya. Masa cuma gara-gara suatu peristiwa membuatnya tidak berpikir rasional. Aku tersenyum menahan tawa, sebab aku tak ingin membuatnya tersinggung.

“Percayalah, tak akan terjadi apa-apa,” sambil mengulurkan tangan dengan jemari menampung.

Ia manatapku tanpa mimik. Beku. Kutarik masing-masing ujung bibirku ke samping agar wajahku tampak tersenyum. Ia memang ragu, namun akhirnya kunci yang kuinginkan diserahkan dengan berat hati.

“Terimakasih.” Kau dan apartemenmu sok misterius seperti materi gelap yang tak dapat dideteksi radiasi pancarannya kecuali lewat efek gravitasi.

Sudah hampir tiga bulan aku tinggal di apartemen murahan ini. Namun belum terjadi apa-apa di lantai empat ini. Tidak ada arwah korban pembunuhan berantai itu yang bergentayangan. Tidak ada pintu yang membuka-menutup dengan sendirinya, tidak ada darah yang keluar dari kran, tidak ada benda yang melayang-layang. Si tua Bicam terlalu berlebihan. Ia terlalu percaya tahayul, mitos dan sejenisnya. Mungkin semua orang tua memang demikian percayanya pada mitos dan tahayul.

Tak ada kejadian aneh selain suara erangan yang berasal dari luar gedung. Sudah tiga kali dalam tiga malam yang tidak berturut-turut suara itu terdengar. Tapi aku belum sempat menengok ke asal suara erangan itu karena setiap kali aku tersintak hendak menengoknya keluar suara itu pun menghilang begitu saja. Kucoba mengintip dari balik jendela, namun tak ada siapa-siapa di luar. Setelah pagi datang, aku turun kebawah, ke tempat suara erangan itu berasal. Tapi tak ada tanda-tanda pembunuhan, bahkan tak ada tanda-tanda telah terjadi sesuatu yang sedikit penting di situ. Barangkali pembunuhnya telah terlampau profesional, dapat menghilang jejak sehilang-hilangnya. Tapi sudahlah, mungkin memang tidak terjadi apa-apa. Mungkin hanya sisa-sia dari mimpi dalam tidurku yang tak aku sadari kalau aku bermimpi.

“Jhon, semalam kau mendengar suara aneh luar?” Kutanya pada tetanggaku yang berada di lantai dua. Kebetulan pintu apartemennya terbuka dan aku melihatnya sedang santai di ruang tamu yang sekaligus ruang keluarga dengan televisinya. Aku tahu namanya dari si tua Bicam—yang sangat hafal dengan nama semua penghuni apartemen ini.

Ia menatapku datar. Huff, aku tak butuh tatapan itu jhon, aku hanya butuh kau menjawab.

“Dia bisu,” cegat Lani istrinya yang tiba-tiba saja hadir di belakangku.

“Maaf, selama ini aku tak tahu.”

Pantas saja setiap kali aku lewat dan menegurnya ia tak pernah menyahut. Hampir saja aku berpikir kalau Jhon adalah orang yang paling sombong sedunia, orang paling menyebalkan sedunia.

“Ada apa?”

“Sudah tiga malam yang tidak berturut-turut aku mendengar semacam suara erangan dari luar, sepertinya di depan gedung. Kau tahu?”

Keningnya berkerut.

“Aku tidak mendengar apa-apa. Benarkan Jhon?”

Pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban.

“Tapi suara itu nyata sekali, sangat nyata. Aku yakin aku tidak sedang bermimpi saat mendengar suara itu.”

“Kau mendengarnya tengah malam saat kau tidur?”

“Ya.”

Lani tersenyum, lalu menepuk-nepuk pundakku.

“Barangkali kau terlalu lelah.”

“Tidak, Lani. Suara itu sangat nyata.”

“Kau melihatnya?”

“Setiap aku hendak keluar, suara itu hilang. Dan sudah tak ada apa-apa lagi.”

“Nah, benar kan, tak ada apa-apa. Aku pikir kau lebih percaya pada matamu.”

Aku menarik nafas panjang.

“Mungkin Kau benar, Lani. Kalau begitu aku ke atas dulu ya.”

“Eh, kau suka mangga? Aku baru dari pasar dan beli beberapa buah-buahan.” Ia menyodorkan duah buah mangga padaku dan kuterima dengan senang hati.

“Terimaksih. Sampai jumpa.”

“Ya, sampai jumpa.”

Ini adalah hari minggu. Adalah saat-saat yang sangat aku butuhkan. Meraih sekerat roti, membuka minuman soda, menyetel televisi, lalu duduk secara malas seharian penuh. Aku meraih mangga pemberian Lani, dan bangkit mencari pisau. Di rak, di atas dan di bawah meja, di mana-mana kecuali di gudang yang memang tak pernah kubuka, aku tak menemukannya. Sial, hilang lagi. Eh, tunggu. Sudah tiga kali aku kehilangan pisau dapurku. Aku menghitung-hitung, mencocokkan, mengingat hari apa aku membeli pisau dapur baru. Sudah tiga kali pisauku hilang semenjak beberapa hari yang lalu, semenjak…semenjak aku mendengar suara erangan itu. Astaga! Tidak mungkin. Apa pula hubungannya dengan pisau dapurku. Ah! Aku terlampau menghubung-hubungkannya.

Akhirnya aku terpaksa membeli pisau dapur baru untuk kesekian kalinya.

***

Suara itu, suara itu kembali mengerang!

Huff, aku tersintak. Dan tak ku tunggu berlama-lama, aku melompat dari ranjang, berlari keluar menuruni tangga, kendati suara itu tak terdengar lagi, aku tak peduli, aku harus mencari tahu, kalau itu memang sebuah pembunuhan, aku harus menghentikannya.

Ternyata memang tak ada apa-apa di luar. Barangkali saja aku terlambat dan peristiwa itu pun selesai. Kulirik pos jaga Bicam, dia tak ada, ya tentu saja, sebab malam sudah terlanjur larut. Tak ada apa-apa selain udara yang dingin.

Di pagi yang gerimis, tiba-tiba apartemen di gempar dengan berita menghilangnya Jhon. Lani menangis sejadi-jadinya. Lani yakin Jhon hilang, sebab selain bisu, Jhon juga lumpuh. Ia tak pernah berpergian semenjak kelumpuhan yang dideritanya. Bahkan uang pensiunnya, Lani lah yang menjemputnya setiap bulan. Aku turut prihatin dan datang ke apartemennya untuk menunjukan rasa belasungkawa.

Ini pasti ada hubungannya dengan suara erangan malam itu. Ini tak bisa dibiarkan. Tapi ada yang tak percaya kalau jhon hilang. “Paling-paling ia jalan-jalan dengan kursi rodanya, bosan kan di rumah terus, istrinya saja yang sok romantis,” kata tetangga yang lain. Tapi telah berhari-hari Jhon tak pulang. Akhirnya kusarankan pada Lani agar melapor ke kantor polisi. Aku menemani Lani ke kantor polisi. Beberapa orang polisi melakukan pemeriksaan di apartemen, meminta keterangan pada semua penghuni apartemen termasuk aku. Ternyata memang tak ada yang melihatnya kaluar dari apartemen. Aku semakin curiga bahwa Jhon telah dibunuh di malam aku mendengar suara erangan itu. Dan mayatnya dibuang entah di mana oleh si pembunuh.

Aku menemui si tua Bicam di apartemennya, di ruang tamunya. Wajahnya ketakutan saat membuka pintu dan mendapati aku di depannya. Ia bergerak hendak menutup pintu tapi aku menahannya.

“Pak, apa sebenarnya yang sedang terjadi?”

Ia bergegas masuk ke dalam tanpa menutup pintu. Dan aku masuk.

“Sudah kubilang, yang mana pun ruangan di lantai empat itu, jangan ditempati!” Bentak Bicam, “sebaiknya kau pergi saja!”

“Jadi kau tahu penyebab hilangnya Jhon?”

“Tidak,” jawab Bicam bergetar sebelum ia memalingkan mukanya.

Kau berlebihan pak tua. Bathinku. Lalu apa hubungannya denganku, sampai-sampai kau mengusirku, dasar manusia aneh yang percaya tahayul. Aku keluar dan membanting pintu. Aku tidak terima kalau itu dikaitkan denganku.

Malam-malam berlanjut. Dan aku kembali mendengar suara erangan itu tengah malam saat aku setengah tertidur. Aku berlari ke luar gedung dan seperti sebelumnya, tak ada apa-apa sebelum pagi yang gerimis kembali datang. Waktu itu aku baru saja bangun dari tidur yang melelahkan. Aku agak terhuyung menuju kamar mandi, pisau dapurku! Pisau dapurku. Pisau dapurku tergeletak dekat kloset dengan darah yang berlumuran. Darah apa ini? Jangan-jangan, oh tidak. Tidak mungkin. Gegas kubersihkan pisau berlumuran darah itu dengan air. Aku tak ingin ada bekas darah di tempatku. Kubersihkan sisa-sisa darah sebersih-bersihnya. Jangan sampai ada yang tahu lumuran darah ini.

Hampir seminggu aku tak melihat si tua Bicam setelah pembicaraan singkatku dengannya tempo hari.

“Apakah dia sakit?” Tanyaku pada Lani.

Tak ada yang tahu kemana si tua Bicam. Bahkan kamarnya tidak terkunci. Tidak hanya aku dan Lani saja yang merasa kehilangan Bicam, seluruh penghuni apartemen merasa kehilangan. Ia adalah ayah bagi penghuni apartemen ini. Si tua Bicam menghilang seperti Jhon.

“Ini tidak bisa dibiarkan.”

Kami sebagai penghuni apartemen murahan ini melapor ke polisi atas hilangnya si tua Bicam. Polisi pun berusaha mengungkap kasus ganjil ini, semua keterangan telah dikumpulkan, tapi tak satu pun ditemukan petunjuk. Lani menatapku. Tapi tatapannya mengandung kecurigaan. Ah, jangan lagi, aku tak suka orang menatapku seperti itu.

Malam yang ganjil.

Aku teringat pada pisau dapur yang tergeletak berlumuran darah di kamar mandi apartemenku. Aku mendengar suara erangan itu mengerang-ngerang di kepalaku.

“Arrgghh….”

“Bunuh. Bunuh.”

“Arrgghh….”

Kepalaku menjadi pusing dan terasa seperti ditusuk-tusuk. Semakin lama terasa semakin menyakitkan. Kupegang kepalaku dengan kedua tangan dan jemari yang mencegkram. Sakit. Serasa ingin kulepas saja kepala sial ini. Tak dapat kukendalikan tubuhku, terguling-guling dari ranjang ke lantai. Kuhantukkan kepalaku ke lantai untuk menghilangkan rasa sakitnya. Sakit. Ditusuk-tusuk. Aku tehuyung-huyung menuju meja, meraih obatku. Sial! Obatku habis. Aku lupa kalau aku tak lagi meminum obat itu semenjak empat bulan yang lalu. Sakit. Ditusuk-tusuk. Pandanganku tak karuan, berjalan tak tahu arah. Tapi sakit ini tak juga mau berhenti hingga akhirnya tubuhku menabrak pintu apartemen Lani. “Arrgghh…” Lani mengerang. Aku terperanjat melihat tubuh Lani yang berlumuran darah tergeletak di lantai dengan beberapa bekas tusukan. Barulah aku sadar bahwa tanganku sedang menggenggam pisau dapur yang juga berlumuran darah Lani. Tidak. Tidak mungkin.

Polisi menangkapku dengan tuduhan pembunuhan. Mereka memeriksa apartemenku dan menemukan lima mayat yang sudah membusuk dan sejumlah pisau dapur di dalam gudang yang tak pernah kubuka itu. Di antara mayat tersebut adalah mayat Jhon dan si tua Bicam. Polisi juga menyita kartu kunjungan berobatku ke rumah sakit jiwa.

RuangSempit/Padang, 2008


Beri tanggapan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Kategori