Oleh Rio SY
lambai tangan ataukah pelukan
yang kita dapatkan di stasiun?
tempat airmata sering tumpah
bagai gelas di senggol rebah
dan tangan melambaikan dedaun patah
panjang rel yang membawa kelana
menatapi malam yang memekat di kaca jendela
lalu menjadikannya potret
dan senyummu mekar di dalamnya
sepanjang jalan, sepanjang perbincangan
berbagai hal di jendela luar melintas saling berkejaran minummu habis dalam tegukan padahal rute belum tuntas tapi aku percaya kita tak butuh segala selain persalaman yang sama alur ini akan lunas kita terbelah, kau ke utara dan aku ke selatan mencari kembara yang sempat mengendap dalam diam batu pualam dan kita tak akan kehilangan apaapa kecuali pertemuan tapi hari lain ingin mengembalikan semua ke stasiun untuk menanti lagi kereta malam itu kembali kau duduk di bangku tunggu atau bahkan aku yang tengah terlelap lusuh (RuangSempit, 2008)
berbagai hal di jendela luar melintas saling berkejaran minummu habis dalam tegukan padahal rute belum tuntas tapi aku percaya kita tak butuh segala selain persalaman yang sama alur ini akan lunas kita terbelah, kau ke utara dan aku ke selatan mencari kembara yang sempat mengendap dalam diam batu pualam dan kita tak akan kehilangan apaapa kecuali pertemuan tapi hari lain ingin mengembalikan semua ke stasiun untuk menanti lagi kereta malam itu kembali kau duduk di bangku tunggu atau bahkan aku yang tengah terlelap lusuh (RuangSempit, 2008)

luar biasa….
puisi yang membuat aku teringat akan kisahku…
puisi itu seperti yang ku alami…
thanks atas puisinya bos….
lam kenal dari landernova
Oleh: landernova on Agustus 11, 2008
at 5:53 pm
salam kenal juga landernova. maaf saya baru baca koment saudara. terimakasih. mungkin kita bisa ngobrol lebih banyak
Oleh: riosy on September 4, 2008
at 3:38 pm