Oleh: riosy | Mei 11, 2008

Lelaki Beransel

Oleh Rio SY
300px-sapuan_akrilik
Tetapi, ia mencoba menghubung-hubungkan ingatannya dengan kehadirannya di tempat lain. Saat ini.
Baiklah. Mungkin Anda berpendapat ia sedang memungut-munguti kenangannya. Mungkin setiap orang juga akan berpendapat sama. Benar, ada bagian yang benar-benar merentang luas di matanya. Sesekali dahinya berkerut dan matanya berkedip ganjil. Seolah-olah bola matanya ingin berteduh dengan alis tebal itu dari silau. Mungkin kenangannya yang bersilau memantulkan kemungkinan-kemungkinan lain.
Betapa, kemungkinan yang ia perkirakan kian memperburuk niat baiknya untuk tetap bersama Ryati—gadis yang gemar ia sentuh pipinya dengan punggung telunjuk. Pun kemungkinan yang ia perkirakan itu tak ingin diterimanya. Traumakah yang telah membelah-belah niatnya itu?
“Lebih burukkah kenangan dibanding trotoar ini?”
Ia tak menjawab.
Ia tak tergubris oleh pertanyaan semacam itu.
Matanya beralih ke ransel yang sedari tadi ditaruh di samping kakinya— ransel yang telah ia bawa menelusuri emperan-emperan toko dengan sejumlah pengemis dan gelandangan, trotoar, halte, terminal, stasiun. Juga lorong bagian dalam bis yang sering ia lihat sebagai koridor sunyi, kumuh, bau, pengap, dan sesak oleh orang-orang berkeringat.
***
Termasuk saya, atau Anda sendiri, akan bepikir untuk tidak memberi waktu pada lelaki ini untuk berkabung, terlepas dari apa yang ingin ia duka-citakan. Dan saat kita melakukannya, berharap, kalau tidak tersenyum, paling tidak, sekurang-kurangnya ia tidak menumpahkan airmata.
“Bukankah kita dibesarkan dan diajarkan untuk tidak bersedih?” Ia menoleh, tapi masih merasa ragu apakah kalimatku ini untuknya. Ia menggerakkan bibirnya sedikit, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa aku sedang menuju bicara padanya.
“Usahlah bersedih, nanti kau bisa sakit,” lanjutku.
“Kita memang mengagumi roman muka orang yang tidak menunjukan kesedihannya dan berusaha meniru orang-orang Indian yang penuh keberanian dan tak pernah tampak kesakitan.” Ia menjawab dengan melemparkan jauh pandangannya.
“Tapi kita harus bisa menguasainya. Kalau dapat menekannya menjadi sekecil mungkin.”
“Menekan?”
“Ya.”
“Menekan-tertekan-ditekan-tekanan….” Ia mengucapkannya dengan setengah bergumam.
***
Ransel itu.
Ia menyangka akan menemukan tawa yang takkan habis di tempat itu. Menyangka takkan mendapati kejadian yang ganjil-rupa antara dia dan Ryati. Ada beribu-ribu mimpi, beribu-ribu harapan, beribu-ribu masa depan. Beribu-ribu. Padahal semua berawal dari hal yang sederhana. Bertemukan jodoh dan menikah. Dan ada beribu-ribu kata-kata yang ia ucapkan untuk menyatakan hal itu.
“Tak bisakah kau memaafkan aku?”
“Aku sudah memaafkanmu, tapi aku tak bisa melepaskan ingatanku pada masalah itu.”
“Berarti kau tak bisa memaafkanku.”
“Aku maafkan. Aku tak bisa terus menyiksamu karena, aku menyayangimu.”
“Tapi kenapa kau tak bisa menerimaku lagi.”
“Aku telah mencoba. Ternyata semua lebih buruk dari yang kubayangkan. Maafkan aku, aku tak bisa memahaminya. Ini terlalu beresiko untuk kita teruskan.”
“Kau sanggup untuk jauh dariku?”
“Entahlah.”
“Jangan tinggalkan aku. Aku tak memiliki teman selain kau di kota ini.”
Tak pandai lagi ia berpura-pura mampu menahan airmatanya. Tapi ia mampu menahan keinginannya untuk memeluk Ryati meski itu adalah bagian terpenting karena ia tak pernah sekalipun berniat meninggalkan gadis yang gemar ia sentuh pipinya dengan punggung telunjuk itu. Bagaimana tidak airmata mereka mengucur, sebab tak pernah terlintas di benak mereka untuk saling meninggalkan. Bukanlah keinginan mereka. Bukan. Tapi seperti sebuah keharusan bagi mereka. Begitulah kira-kira.
Begitulah kemudian ia berkemas. Memuati ranselnya dengan bekal dan kenangan. Lalu menyeselesaikannya dengan menarik resleting ranselnya dan menyandangnya, tapi ia merasa tak hanya ransel yang memberat  di bahunya..
Terlalu banyak kalimat terakhir yang ingin ia ucapkan, tetapi semua telah mengucur bersama airmatanya. “Jaga diri baik-baik.” Lalu ia mulai menuntun langkahnya menjauhi Ryati. Menjauhi mimpi yang telah ia susun selama ini. Ia melangkah tanpa hirau, walau hanya dengan menolehkan sedikit wajahnya ke belakang.
Dengan ransel di punggungnya ia menelusuri lebih banyak halte, terminal, stasiun, dan dermaga ketimbang sebelumnya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, dengan bergiliran ia temui pengemis dan gelandangan yang makin hari makin memperbanyak diri. Kian hari manusia seperti telah antri dengan profesi itu. Atau peradaban memang sengaja mengirim mereka? Disaksikannya pembangunan gedung yang tingginya menjulang, di antaranya adalah Mall. “Di sanalah orang-orang yang sedang membahagiakan diri mereka sendiri berada,” pikirnya.
Yang ia perhatikan kemudian adalah antrian warga-warga miskin pada pembagian minyak tanah yang katanya murah (dibanding minyak-minyak lain). Dalam barisan itu seorang ibu separuh baya dengan kaos—yang sebenarnya putih, tapi telah menguning. Di pangkuannya ada seorang balita digendong dengan kain yang diikat pada tubuhnya. Beberapa perempuan tua duduk dan ada yang sekedar jongkok di antara antrian. Malah sebagian tampak terkantuk-kantuk. Lelaki tua di depannya pun tak kalah kasihan keadaannya. Terlihat sekali dari roman mukanya yang keriput dan rambut putihnya. Pak Tua itu tidak mengenakan baju, hanya celana, maka jelaslah terlihat kerangkanya yang sudah tak dibalut daging. Anak-anak pun ikut antri di sana. Barangkali orangtua mereka sedang sakit atau sedang mengais-ngais sampah di tempat lain. Hanya ada satu jalan bagi mereka, yaitu menerima. Bahkan ketika ada yang di dorong-dorong oleh petugas hingga jatuh, dan ketika sebagian dari mereka tak mendapat bagian. Tak sempat mendapat kebahagiaan
Ia teringat bahwa kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika kita bisa membahagiakan orang lain. Kini ia tak lagi berbahagia oleh karenanya, sebab ia telah berhenti pula membahagiakan gadis yang gemar ia sentuh pipinya dengan punggung telunjuk. Tapi, bukankah begitu banyak manusia yang tidak bahagia? Dan sebanyak itu pula peluangnya untuk membahagiakan orang lain? Termasuk gelandangan yang sedang mengais-ngais tong sampah di samping pohon itu. Di sebuah trotoar kota. Di depan emperan toko mewah. Sedangkan di tepi jalan dekat tong sampah dan lelaki itu, begitu tenang terparkir beberapa sedan mewah. Jelas tenang, karena gelandangan itu tak menggangu apapun kecuali tong sampah.
Tetapi tak semuanya benar-benar tenang. Ia—lelaki yang menyandang ransel, hatinya merasa terganggu oleh ketenangan itu. Terlebih ketika ia pun tahu bahwa gelandangan itu mengais tong sampah untuk mencari makanan sisa. Gelandangan itu berkumis dan berjenggot tebal. Mungkin karena tak sempat atau memang tak mampu mengurus penampilannya. Kakinya lumpuh, tangan kirinya buntung. Si gelandangan menemukan bungkusan nasi yang masih bersisa. Benar, gelandangan itu langsung melahapnya tanpa menunggu siapa pun. Memang masih muda walau selintas tampak renta. Memang, gelandangan itu tampak sehat dan kuat, tapi tetap saja tak berdaya.
Ketidakberdayaan itu menghentikan langkahnya, untuk memberikan sesuatu, uang barangkali? Ia meraih bungkusan nasi sisa dari tangan Si gelandangan dan membuangnya kembali ke tong sampah. Gegas ia merogoh saku celananya. Belum sempat ia mengeluarkan apa-apa, tiba-tiba seseorang berteriak, “woi ! Kurang ajar kau. Gelandangan pun kau ganggu!” Sambil mengangkat tangan orang itu mengejarnya. Mula-mula hanya satu orang, lalu dua orang, lalu tiga orang, lalu jalanan seperti menetaskan orang-orang keluar untuk mengejarnya. “Copet, copet !” teriak yang lain.”Woi!”, “woi! tangkap.”
Ia mendapat satu pukulan yang tidak telak di pipinya. Tubuhnya bereaksi begitu saja mendorong orang yang telah memukulnya hingga terjatuh. Ia lari sebelum semua orang sampai di hadapannya untuk menghajarnya lebih banyak lagi. Ia lari. Tubuhnya terguncang-guncang disebabkan ransel yang ia sandang tidaklah ringan. Tak dihiraukan bahwa ia tanpa sengaja menabrak para pejalan kaki, bahkan beberapa pedagang kaki lima mengupatinya karena hampir menabrak dagangannya.
Ia berlari memasuki gang-gang kecil dan lengang. Dalam nafas yang terengah-engah dilihatnya di kiri dan kanan gang itu ada pintu-pintu. Setelah kelokan itu hanya ada jalan lurus dan sempit sepanjang gang itu. Kecuali pintu-pintu itu menawarkan kemungkinan berbeda. Ia tak menyia-nyiakan kemungkinan itu. Setelah kelokan itu, ia takkan terlihat : begitulah pikirnya. Pintu pertama dicoba dibuka, namun gagal karena terkunci. Pintu kedua  di sebelahnya pun dibuka, ternyata tak terkunci. Lelaki itu masuk dan menutupnya kembali dengan sigap. Ia berusaha mengatur nafasnya yang seperti badai agar tak terdengar sampai keluar.
Derap langkah kaki orang-orang terdengar di luar. Beruntung sekali. Orang-orang tak melihatnya masuk ke dalam salah satu pintu. Orang-orang itu pun terus berlari sampai ke ujung gang. Huff….Disandarkannya punggung yang mengemban ransel itu ke pintu sambil menatap langit-langit, lalu menurunkannya perlahan. Pandangannya terbentur pada seorang gadis yang agaknya sedari tadi telah berdiri di sana.
“M…m maaf nona, saya dikejar-kejar orang. Lalu, lalu saya melihat pintu. Tapi saya bukan copet, saya di tuduh copet, padahal….”
“Mana ada copet dengan ransel sebesar itu. Tenanglah, asal kamu tidak macam-macam di sini.” Gadis itu tersenyum seperti telah mengenalnya lebih lama. Senyumnya terlalu tulus untuk orang tak dikenal sepertinya yang masuk ke rumahnya tanpa mengetuk pintu. Bagai terlupa bahwa ia hampir saja dibunuh oleh orang-orang yang mengejarnya. Kali ini bukan nafasnya yang seperti badai, tapi gemuruh badai dalam dadanya kian aneh. Tentu saja. Tidakkah ini terlalu cepat? Tapi jatuh cinta memang datang tanpa kenal perkiraan waktu, tanpa rencana, tanpa mengetuk pintu. Sama seperti yang telah dilakukannya pada pintu rumah Nona ini. Ia merasa yakin saja bahwa ia jatuh cinta, sebab ia telah pernah merasakan rasa yang serupa sebelumnya.
“Pipimu memar. duduklah. Aku ambil air hangat, biar pipimu tidak bengkak.”
Ia merasa mata dan senyum gadis itu menelannya. Ia mencoba untuk tidak percaya dengan riuh gemuruh dalam dadanya, walaupun dimata dan senyuman gadis itu ia tak menemukan sesiapa pun di sana, termasuk Ryanti.
“Aku boleh tahu siapa namamu? Kau baik sekali.”
“Jangan memuji, nanti kukira kau ingin merayuku. Benar, kau ingin merayuku?”
“Tidak. Aku tak bermaksud begitu. Aku benar-benar ingin bertanya. Bukan berpurapura merayu. Kau baik, malah sangat baik. Kita belum pernah saling kenal, tapi kau baik padaku.”
“Apakah kebaikan hanya untuk orang yang kita kenal saja?”
“Jadi, namamu siapa?”
“Panggil saja  aku Bulan.”
“Kau memang umpama bulan…”
“Hah ?”
“Ah, tidak.” Ia mengalihkan mata dan pikirannya pada ransel, menurunkannya dan menaruhnya di lantai. Kemudian ada beban yang tak hanya berasal dari ransel yang ikut terlepas dari pundaknya. Sebelum ranselnya benar-benar terhempas ke lantai, kepalanya clingak-clinguk ke jendela. Masih bersisa rasa cemasnya, jangan-jangan orang-orang yang tadi mengejarnya ada di luar.
Seperti sinetron saja. Bulan mengusap memar di pipinya dengan handuk kecil dan semangkuk air hangat.
Semisal bendungan yang jebol, percakapan mereka terus mengalir menyusuri sungai diri masing-masing. Mungkin mereka sama-sama pandai memilih perbincangan yang mereka sukai, hingga mereka menghabiskan malam dengan bercangkir-cangkir kopi guna lebih mempernikmat percakapan. Bulan bercerita tentang kesenangannya menari secara diam-diam dalam kamar. “Terkadang aku suka menari sambil bersiul. Eh kebetulan ada cewek lewat di depan kontrakan, dia jadi mengira aku sedang menggodanya !” “Ha…ha…ha….”
Sampai Si lelaki beransel bercerita perihal kelananya dengan sebuah ransel. Termasuk perihal Ryati. “Jodoh bagiku adalah menuju pulang ke rumah, tapi bukan dengan singgah di banyak rumah. Aku tak pernah tahu di mana rumah itu. Namun aku percaya, langkah ini dituntun menuju ke sana, ke tempat rumah itu berada. Dan jika waktunya tiba rumah itu pasti kutemukan. Hanya Tuhan yang tahu kapan itu.”
“Hatimukah rumahku, Bulan?” Pikirnya.
Entah kebetulan atau tidak pertemuan mereka. Yang ia tahu bahwa rasa yang ia pikir tak bisa lagi merasakannya. Ternyata ia keliru. Rasa itu tumbuh lagi pada orang yang berbeda. Pada Bulan. Bulan memang bagaikan bulan yang tumbuh di langit malam.
***
Berhari-hari sudah. Berminggu-minggu sudah. Di setiap harinya ia sempatkan untuk berkunjung ke rumah Bulan walau cuma untuk mengetahui keadaannya. Adakah ia baik-baik saja?
Hingga pada suatu malam ia datang menemui Bulan, “aku tak peduli, apakah ini terlalu tergesa-gesa dan berlebihan. Tapi aku tak ingin nantinya menyesal karena tidak sempat mengatakan bahwa aku sayang kamu, Bulan. Cuma itu. Bila ini memberatkanmu, aku minta maaf.”
***
Malam tak berbintang. Gang sunyi dan dingin. Pintu tiada yang terbuka. Semua lampu telah mati. Ransel yang hendak di taruhnya, diangkat lagi, dikembalikan ke bahu. Ransel itu pun bagai terlahir hanya untuk di bahunya. ***

Ruangsempit/ Padang, 2008


Beri tanggapan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Kategori