Oleh Rio SY

Setiap pagi, saat berangkat kuliah aku harus melihat pemandangan yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Menelusuri jalan yang sedikit becek, karena memang sering hujan pada malam hari, menegur pak Ali yang sedang membaca Koran di teras rumahnya, mendengar suara bu Kardi yang sedang memarahi anak-anaknya karena terlambat bangun, menyapa bu Aini yang mengantarkan anaknya yang masih SD ke sekolah, melewati warung kelontong bu RT.
Beberapa meter sebelum sampai ke jalan utama kota, aku harus melewati sebuah gang dengan dinding tinggi di kedua sisinya yang penuh coretan. Dinding itu adalah pagar yang membatasi dua Ruko besar di tepi jalan raya. Sesampai di jalan raya, aku harus ikut berdesakan menyelinap di antara orang-orang yang juga ingin naik bus kota yang sama denganku.
02.00 pm
Turun dari bus kota di depan gang dan berjalan di antara dinding gang. Kali ini aku berhenti di depan gang tersebut memeandangi coretan-coretan di dindingnya. Aku merasa tertarik. Sepertinya corat-coret gambar dn tulisan ini adalah curhan hati dan pikiran seseorang. Tapi kenapa aku baru sekarang aku memperhatikan coretan ini ? Kenapa tidak dari dulu, sebab aku melewati gang ni sejak aku kecil. Hmm…barangkali karena akhir-akhir ini aku merasa sedihkaren Aldi meninggalkan ku, sehingga hatiku menjadi lebih sensitive.
Ku pikir tak ada salahnya jika aku ikut mencurahkan perasaan sedihku di dinding ini. Baiklah, aku ingin menggambarkan diriku yang sedang duduk di bangku taman dengan awan mendung yang mulai menjatuhkan rintik hujan. Sedangkan kau pasrah saja. Ku biarkan diriku larut dalam kesdihan.
…
***
Setiap pagi, untuk berangkat kerja aku harus melihat pemandangan yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Menelusuri jalan yang sedikit becek, karena memang sering hujan pada malam hari, menegur pak Ali yang sedang membaca Koran di teras rumahnya, mendengar suara bu Kardi yang sedang memarahi anak-anaknya karena terlambat bangun, menyapa bu Aini yang mengantarkan anaknya yang masih SD ke sekolah, melewati warung kelontong bu RT kemudian menegurnya.
Beberapa meter sebelum sampai ke jalan utama kota, aku harus melewati sebuah gang dengan dinding tinggi di kedua sisinya. Sesampai di jalan raya, aku harus harus turut berdesakan di pintu bus kota menuju kantor.
04.00 pm ( Pulang kerja )
Dari bus kota yang aku tumpangi, aku turun di depan gang, kemudian berjalan di antara kedua diding nya. Aku menghentikankan langkahku. Tanganku merogoh tas dan mengambil sebuah spidol. Adalah kebiasaanku mendoret-coret dinding ini dengan gambar ataupun tulisan sepulangnya dari kantor. Semua unek-unek yang ada dalam pikiran dan perasankuku tuangkan lewat tulisan dan gambar di dinding ini. Yang jelas, ini adalah hal yang paling menghiburku dari rutinitasku sehari-hari.
Aku sendiri sudah tak ingat kapan pertama kali aku mencoret-coret dinding ini. Entah kapan itu, yang pasti aku mulai mencoret-coret dinding ini semenjak aku mulai sekolah, karena memang untuk ke sekolah aku[asti mlewati gang ini. Sampai sekarang kebiasaan ini tak ku tinggalkan.
Tapi tunggu dulu. Kali ini sangat berbeda. Seseorang telah ikut pula mencoret dinding ini. Ia menggambar seorang wanita yang sedang dudk di bangku taman. Di atasnya ada awan mendung dengan rintik-rintik hujan yang akan membasahinya. Siapa yang membuat gambar ini ?Aku jadi penasaran. Bagaimana tidak. Sebab, selam ini belum ada orang selain aku yang mecoret-coret dinding ini. Dia pasti seorang wanita. Aku yakin sekali, karena gambar yang dibuatnya bisa saja itu adalah gambar dirinya ssnediri yang sedang dilanda kesedihan. Perlahan aku mulai resah dangan kesedihannya. Awan mendung menjatuhkan rintikair, Ia pasti basah. Tapi tampaknya ia pasra saja dan tak melakukan apa-apa. Seolah-olah ia ingin menangis karena kesedihannya.
Jadi apa salahnya jika aku melakukan sesuatu untuknya. Paling tidak aku bisa melindunginya dari hujan meski hanya dalam gambar.
Aku mulai menggambar sebuah paying di atas kepala wanita ini. Mudah mudahan ia tak akan basah oleh hujan. Aku tersenyum setelah menyudahi gambarku. Kemudian aku melanjutakn perjalanan menuju rumah.
Esoknya pukul 07.00 pm
Aku melewati pagiku seperti biasa.
Sepulang kuliah, kembali kutelusuri gang dengan kedua dindinnya. Kuhentikan langkahku. Aku tersenyum menatap gambar yang kubuat kemaren. Seseorang telah melukis sebuah paying di atas gambarku. Tak ku sangka ad yang peduli padaku. Aku menjadi terhibur dan serta-mrta kulupakan kesedihanku.
Spidolku pasti sudah menunggu untuk ku goreskan lagi. Ku gambarkan sebuah mobil melintas dari isi kiri si wanita dan mobil itu melindas genangan air, Sehingga ciprtan air akn mengenai si wanita.
04.00pm
Entah kenapa gambar ini sangat menarik perhatianku. Kali ini menambahka gambarnya dengan sebuiah mobil yang melaju di sampingnya. Ia membuat genangan air muncrat ke arahnya. Maksudnya apa ya ? Apakah luka hatinya begitu dalam shingga tak cukup sebuah paying saja untuk melindunginya dari hujan ? Mungkin aku harus memberikan diriku untuk melindunginya.Baiklah, akan kugambar seorang lelaki (Diriku) di sebelah kiri gambar wanita ini. Jadi cipratan air ersebut hanya mengenai tubuhku yeng berada di sebelahnya.
12.15 pm
Orang ini menambahkan lagi pad gambarku. IA menggambar sorang lelaki untuk melindungiku dari cipratan air. Siapa orang ini ?
Sebuiah rasa simpati tiba-tiba menghampiriku. Diakah dewa penolongku ? Diakah lelaki yang akan selalu melindungiku? Diakah yang memberika segenap hati dan dirinya untukku? Tanganku dengan perlahan menuliskan sebuah kalimat
04.30 pm
Aku tertegun menatap sebuah kalimat ‘siapakah gerangan dirimu?’ Aku yakin bahwa pertanyaan ini ditujukan untukku. Aku jadi tersenyum dengan simpatiknya. Barangkali simpatik yang akan berlanjut menjadi senyum dan rasa yang berasa.
Sementara tanganku menulis jawaban.
Aku hanya bagian dari dinding ini
***
Setelah beberapa hari.
Aku meraa mendapatkan teman untuk berbagi. Teman untuk saling menawar, ngobrol, bercerita, bahkan untuk menangis dan tertawa. Aku telah melupakan kesedihanku. Dia memberiku semangat ketika dia berkata lewat tulisannya di dinding ini.
Tersenyumlah, atau pegang tanganku untuk melewati kerumunan kabut. Sebab aku selalu ada si sampingmu.
Kami saling berbagi tanpa rasa sungkan. Ia telah menepis rasa kesepianku. Aku merasa menjadi wanita sesungguhnya ketika berbicara dengannya lewat dinding ini. Ia bagai mengetuk jendela kamar pengasinganku dn mengulurkan tanganya sembari tersenyum, lalu ia mengusap pipiku yang basah. Kami saling mengenal satu sama lain. Lebih dekat ketimbang jarak antara kedua jari-jariku. Tetes-tetes mataku yang redup kembali berpijar seperti kerlingan embun diterpa mentari pagi. Kami telah mengukir banyak cerita, meski hanya ewat dinding ini. Aku merasa mendapatkan teman untuk saling menawar racun kebosanan hari-hari yang dilewati. Dan aku juga inginmemberinya semangat meski hanya melalui dinding ini.
…
***
Kami saling berbagi tanpa rasa sungkan ataupun bosan. Aku ingin menepis kesepiannya seperti ia menepis kesepianku. Aku ingin mengetuk jendela kamarnya dan mengulurkan tanganku sembari tersenyum, lalu ku usap pipinya yang basah. Kami saling mengenal satu sama lain. Lebih dekat ketimbang jarak antara kedua jari-jariku. Aku melihat harapan yang tumpah, lalu kujemputkan segelas lagi ke bukit yang penuh taman bunga. Aku ingin menemuinya tanpa kesamaran lagi. Kutuliskan, ‘perkenankan aku menjembputmua dengan senyum. Kemudian meraih jemarimu, dan tiba-tiba kita telah berdiri di bukit yang penuh bunga. Perkenankanlah kau untuk menggemburkan tanah-tanah lading yang akn kutanami semangka kesukaanmu. Dengan kayu hutan, akan kubangun rumah untuk kita tempati’.
01.45 pm
Jemputlah aku dengan senyum itu. Akan ku seduh the untuk letihmu saaat membangun rumah untuk kita tempati.
04.00 pm
Senyum mengambang di wajahku. Aku akan segera menjemputmu. Aku terlalu tenggelam dengansenyum bahagia, hingga aku pun lupa untuk menuliskan sesuatu pada dinding gang. Tapi akan kutunggu pagi datang walaupun aku berharap pagi datang dalam sekejap.
02.10 pm
Aku merasa begitu kalut. Aku butuh mendekap pada sesuatu, saat kulihat sebuah plang yang bertuliskan ‘Maaf, gang ini kami tutup. Jala dialihkan ke Jalan Sehat II’. Anginserasa berhenti bertiup.Beberapa orang pekerja sedang meruntuhkan serta memporak-porandakan harapanku. Mereka telah menculik seseorang yang akan menjemputku dari kesepian. Aku berharap ini hanyalah sebuah mimipi.
Aku berdiri tertegun entah sampai kapan. Perlahan mendung menjadikan redup mataku. Lalu, lewat apalagi aku akan berbicara dangannya. Mereka seperti penjajah yang merampas ladang-ladang serta rumah kami.
04.00 pm
Aku turun dari Buskota yang kutumpangi. Kulangkahkan kaki dengan agak tidak sabar. Sebab, inilah saat yang paling menakjubkan. Menjemput seseorang yang akan kubangunkan rumah dari kayu-kayu hutan. Seseorang yang akan kujemput dari kesepiannya. Wanitayang mungkin akan menyeduhkan tah untukku, aku datang untukmu.
Aku talah berada di depan gang yang dindingnya telah menyatukan hatiku denagn seorang yang lain. Namun lidahku tiba-tiba keluh. Tubuhku mendadak lemh bagai remuk entah oleh apa. Mereka telah menculik calon pengantinku. Dinding gang itu telah roboh.
Kulihat beberapa orang pekerja sedang memukul sisa dinding yang belum roboh dengan palu seberat 5 kg. Tepat didepanku berdiri seorang wanita. ***Padang, 2007