Oleh: riosy | April 10, 2009

Bunga Kalung

padahal ia telah memintamu tak tandang
pun datang jangan membawa bunga kalung
sebab jenjang rumah itu
lebih banyak dituruni oleh hentak terompah
hentak yang tergesa
tapi kau lingkarkan juga pertemuan itu di leher
menjuntai aroma yang tak dikenal semerbaknya
lalu sengaja kau siram (biar tumbuh)
ia tak suka rimbun
seperti kau tak suka lebat rambutnya
yang lama tak dipangkas

satusatu, daun tanggal tampuk
memenuhi bidang dada
bidang yang mengekalkan halaman kecup
bayi menyusu. menghisap badan
saat itu, jangan kau tatap ia. ia malu

Padang, 2009
(dimuat di Padang Ekspres, 5 April 2009)

Oleh: riosy | April 10, 2009

Tirai

jangan tarik itu tirai yang menutup jalan hari
mungkin seseorang sedang sembunyi di baliknya
mungkin seorang pencuri
sedang ketakutan di belakangnya
sebab kita tiba-tiba terbangun
tapi aku tahu kita tak pernah tidur benar
sebelum sedikit bertengkar
tentang sesuatu yang terbaring di dalam kolong dipan
“selalu saja merebak bau bangkai puisi
yang di bawa induk kucing ke bawah sana”

apa yang membuatmu terbiasa
menatap ke luar jendela
sewaktu kamar sebegini malamnya
mungkin kau ingin menemui pencuri itu
pencuri yang mengambil isi rumah
tanpa meninggalkan rasa kehilangan setelahnya

Padang, 2009
(dimuat di Padang Ekspres, 5 April 2009)

Oleh: riosy | April 10, 2009

Malam Sampelong

masih akan ada ketukan kecil di jendela kamar
dari jari yang gigil ingin menyuapkan nasi ke bibirmu
sebab sejambu cium akan terbelah di sana
dibelah belati dari asahan tangan para perambah rimba

pada malam-malam nakal
dan ringkik jangkrik hampir diam
hanya terdengar lenguh engsel ketika membukanya
semacam ratap dawai rabab

ulurkan gerai rambutmu atau julaikan alas kasur
tapi kau duduk saja mendengar lagu malam
hingga lusuh, kendati jam tidur telah menjadi pasti
di setiap jengkal derak dipan
idamkanlah baju ganih berdeta emas
dingin menyentak setelah setali rambut ditarik sisir
dalam cermin yang membagi wajah menjadi dua
wajah kita
seperti yang kau inginkan

masih akan ada jelangan di pintu belakang
berjingkat di kaki pencuri
diam-diam mengambil wangi tubuh di lipatan
baju dan lingkar subang yang ditanggal sebelum tidur
kemudian menjadi canggung yang tanggung
dalam hilang yang tak tertebak raibnya
di antara gigil ketukan. segigil puisi yang terbaring
di atas kertas. tempat kita masih akan saling
menyapa tanpa harus jatuh cinta

Padang, 2008
(dimuat di Padang Ekspres, 5 April 2009)

Oleh: riosy | Maret 24, 2009

Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009

Yang dibutuhkan bukan hanya bahan yang bagus, tetapi juga kecakapan mengolahnya. Tuntutan ini berlaku bukan hanya dalam penulisan sastra, tetapi juga dalam telaah sastra, bahkan dalam kegiatan tulis-menulis pada umumnya. Jika bahan sastra Indonesia bisa digali dari pelbagai penjuru nusantara, bahkan belahan bumi lain, begitu juga seharusnya dengan kecakapan menuliskannya. Sejenis keahlian yang kami percaya akan membuat sastra Indonesia berkembang dan berdiri sejajar dengan sastra-sastra dari belahan bumi lainnya. Salah satu kenyataan yang harus kita terima adalah telaah sastra tidak tumbuh subur di negeri agraris ini. Bukan hanya karena hampir tidak ada media yang secara khusus memuat telaah sastra, tetapi juga kurangnya rangsangan agar kelak ia bisa tumbuh subur, cemerlang, dan inspiratif. Untuk merangsang kelahiran telaah sastra yang diharapkan, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyelenggarakan kembali sayembara telaah sastra. Mengambil tema “Kepengrajinan (craftmanship) dalam Sastra Indonesia Mutakhir” sayembara telaah sastra kali ini mengajukan sejumlah pertanyaan pemancing: Bagaimana pencapaian sastra kita dalam 10 tahun terakhir ini? Bagaimana kecakapan mengolah gagasan di kalangan penulis sastra mutakhir kita? Apakah kecakapan ini hadir secara konsisten atau hanya kebetulan? Bagaimana kecakapan ini membedakan mereka dari pendahulu mereka? Bagaimana percobaan bentuk-bentuk baru berkelindan dengan muatan lokal yang ada? Bagaimana pula para penulis sastra terkini memandang para pendahulu mereka dari khasanah nusantara dan dunia? Terobosan apa saja yang mereka lakukan? Dan seterusnya.

Adapun Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009 mempunyai syarat dan ketentuan sebagai berikut: Syarat-syarat: 1. Telaah harus karya asli, bukan terjemahan, saduran, atau jiplakan. 2. Buku-buku sastra yang ditelaah adalah yang terbit dalam 10 tahun terakhir (1998—saat ini) 3. Telaah harus membahas satu karya sastra (buku tunggal atau bagian dari bunga rampai). 4. Belum pernah dipublikasikan atau dipresentasikan di media atau forum mana pun. 5. Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik. 6. Tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara serupa. 7. Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah telaah. 8. Panjang telaah paling sedikit 20 halaman dan diketik dalam kertas format A4 , 1,5 spasi, Times New Roman 12. 9. Naskah hanya berisi judul dan isi telaah. Biodata peserta ditulis di dalam lembar terpisah. 10. Lima salinan telaah dan biodata peserta dikirim ke: Panitia Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009 Dewan Kesenian Jakarta Kompleks Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No. 73 Jakarta 10330 11. Batas akhir pengiriman naskah: 30 September 2009 (stempel pos atau diantar langsung). 12. Para pemenang akan diumumkan di Taman Ismail Marzuki pada akhir Desember 2009. 13. Karya para pemenang akan dibukukan. 14. Sayembara tertutup untuk anggota DKJ periode 2006—2009 15. Keputusan Dewan Juri tidak bisa diganggu gugat dan tidak ada surat- menyurat. 16. Pajak ditanggung pemenang. Hadiah: Juara I : Rp 20.0000.000,- Juara II : Rp 15.000.000,- Juara III : Rp 12.500.000,- Tujuh besar : Rp 2.000.000,- Kriteria Penjurian: 1. Ketajaman dalam menggali kepengrajinan karya 2. Telaah yang inspiratif dan orisinal 3. Argumentasi yang meyakinkan 4. Keberanian menafsir dan kesegaran perspektif

Berdasarkan rapat Juri pertama yang dilaksanakan pada Senin, 9 Maret 2009 di sekretariat Radar Bali Literary Award 2009, Museum Sidik Jari, Jalan Hayam Wuruk 175 Denpasar, Dewan Juri yang terdiri dari Eka Pranita Dewi, Tan Lioe Ie, dan Warih Wisatsana, menetapkan memutuskan 31 (tiga puluh satu) nominasi puisi terbaik.

Adapun jumlah keseluruhan naskah yang masuk ke panitia dan memenuhi persyaratan lomba adalah 1.570 dari seluruh Indonesia. Dewan juri akan mengadakan rapat lanjutan guna menetapkan pemenang Lomba Cipta Puisi Radar Bali Literary Award 2009, dan selama rentang waktu sebelum rapat tersebut, dewan juri dan panitia akan melakukan cek dan ricek terhadap naskah-naskah puisi nominasi tersebut, guna menghidari kemungkinan plagiat, saduran, dan hal-hal lain yang dipandang menyalahi ketetapan lomba sebagaimana yang diumumkan sebelumnya. Berikut puisi-puisi nominasi, bukan urutan penilaian :

No undi : 1109

Aku Akan Menjemputmu Bila Hujan Telah Reda

No undi : 736

Anak Pantai

No undi : 1313

Fiksi Keenam; Di Depan Pintu Pertokoan

No undi : 1345

Maling Arloji

No undi : 1087

Menghapus Namamu, Dik

No undi : 972

Penyair

No undi : 59

Aku dan Abu

No undi : 280

Alter Ego

No undi : 959

Cacing Tanah

No undi : 306

Cangkang Batu

No undi : 360

Di Antara Baitbait Takbir
Baca Lanjutannya…

Oleh: riosy | Maret 23, 2009

Pengkhianatan Intelektual

Sastrawan Ragdi F. Daye dalam salah satu esainya yang dimuat di sebuah media massa, ia menulis “bubarkan saja Fakultas Sastra”. Kalimat ini sempat memicu pro dan kontra. Baik dari kalangan akademisi sastra maupun tidak. Hal senada juga pernah diucapkan oleh seorang pejabat dalam pidatonya, kurang lebih beliau mengatakan, jangan sampai jurusan teknik seperti jurusan sastra.
Baca Lanjutannya…

Oleh: riosy | Maret 15, 2009

Musim Gugur

Oleh Rivo Syaftria SY

Daun pohon yang berguguran
Membentang seribu daun
Ranting pohon dan daun yang berjatuhan

Membuat suasana lebih indah

Daun dan ranting pohon menutupi jalan
Daun yang berjatuhan membuat pohon menjadi sunyi
Pada suatu hari kau akan tumbuh kembali

Kau mengeringkan diri dibawah panas matahari
Dan berguguran di taman

Hembusan angin yang membawamu
Dan meninggalkan pohonmu
Jauh, jauh kau pergi dari pohonmu

Daun, di manakah kau pergi
Dan sejauh mana kau pergi
Pohon sangat membutuhkanmu
Daun pun berkata ”hai pohon
Pada musim selanjutnya aku akan tumbuh kembali”

Oleh: riosy | Februari 24, 2009

Catatan yang Terlupakan

Aku telah menemukan
Buku yang berisi catatan terlupakan
Sesuatu catatan tentang kenangan yang hilang
Merupakan benda yang sangat berharga

Melupakan sesuatu yang berharga
Tidak mungkin bisa untuk di catat
Walaupun hanya sedikit

Melupakan sesuatu yang tidak terlupakan
Tidak mungkin bisa di kembalikan lagi

(Dimuat di P’mails, 22 Februari 2009)

Rivo Syaftria SY, lahir di Labuhan, Pesisir Selatan, 6 September 1997. Sekolah di SD 07 Labuhan Pesisir Selatan. bersama teman-temannya membuat kelompok pecinta Laskar Pelangi.

Oleh: riosy | Februari 17, 2009

Lubuk Ikan

penyelaman diam-diam turun
dari sebuah sampan
percakapan bisik-bisik bertiup dari tetas angin
air itu beriak, tapi ikan pun tak tahu
di kedalaman selam terurai umpanumpan
tergantung di runcing kail
di mana kau akan leluasa mengait usia
yang menari dalam lubuk itu

suara air yang meloloskan ikan laju
tersimpan dalam timbul tenggelam pengapung
tak kau sentakkan?
menarik peristiwa yang hanyut
lalu menyembunyikannya di keranjang

batuan dalam lubuk diam-diam menjaga legam
menumbuhkan lumut di antara rasa jenuh menunggu
dengan pancing di genggaman
dengan tangan yang lupa berjabat salam

dari dalam lubuk itu aku mengapai
meraih sampai pada permukaan
tempat kawanan rusa meneguk rasa haus
pada permukaan tempat melihat diri sendiri
mungkin ada gores luka
setelah lepas dari sebuah perburuan

Padang, 2009

(Dimuat di Koran Sindo, 15 Februari 2009)

Oleh: riosy | Februari 17, 2009

Bersampan

sekali ini kuidamkan melempar mata pancing
lalu kuutarakan rahasia umpan
dengan sekali ucap
setahuku kita telah bermula
melewati genang danau
entah akan ke berapa
pendayungan bersampan berinsut
mengayuh riak yang keringati ujung kain
di situ pernah terjahitkan badan
hingga rapat sejumlah ceceran rema
yang tak seorang pun rela memungut
meski keranjang sampah belumlah penuh

Padang, 2009

(Dimuat di Koran Sindo, 15 Februari 2009)

Tulisan Sebelumnya »

Kategori